Selasa, 22 April 2025

“Jika Bukan Kamu, Siapa Lagi Selain Kamu: Entah Sampai Kapan - Pulang yang Tertunda” (Part 2)

 

“Jika Bukan Kamu, Siapa Lagi Selain Kamu: Entah Sampai Kapan - Pulang yang Tertunda”

Bab 1: Suatu Hari di Musim yang Berbeda

Sudah bertahun-tahun sejak hari itu di pantai. Sejak langkah kaki mereka meninggalkan jejak di pasir, dan hati mereka saling berjanji tanpa suara.

Nara kini tinggal di kota yang berbeda. Sibuk. Pekerjaannya menuntut banyak, tapi ia tidak pernah benar-benar keberatan. Kesibukan, baginya, adalah cara paling elegan untuk lupa.

Namun, ada hari-hari di mana ia masih terjaga di tengah malam. Bukan karena takut. Bukan karena sedih. Hanya karena ada bagian dari dirinya yang belum selesai. Yang belum benar-benar pulang.

Sementara itu, sosok yang pernah bersamanya telah menempuh jalan yang juga tak mudah. Bukan karena pilihan, melainkan karena keadaan. Ia tumbuh, belajar mencintai dengan cara baru, dan mencoba meyakini bahwa kisah mereka memang hanya ditakdirkan singkat.

Tapi takdir punya cara sendiri untuk mengejutkan.

Pada suatu hari yang biasa, keduanya dipertemukan kembali. Bukan dalam skenario romantis seperti film. Tapi dalam kebetulan kecil yang mengubah segalanya.

Sebuah acara reuni. Undangan yang nyasar ke email lama. Dan akhirnya, tatapan yang tak bisa mereka hindari.

Mereka sudah berbeda. Lebih dewasa. Lebih tenang. Tapi ada satu hal yang tetap sama—mata mereka masih mengenali satu sama lain. Seolah waktu tak pernah benar-benar memisahkan.

Malam itu, tak ada yang terburu-buru membuka luka lama. Tapi juga tak ada yang berpura-pura tidak pernah saling mencintai.

“Masih ingat pantai itu?”
Nara tersenyum kecil. “Aku bahkan masih bisa dengar suara ombaknya.”
Dia tertawa, lalu menatap langit yang mulai gelap.
“Mungkin kita nggak pernah benar-benar pergi dari sana.”

 

Bab 2: Kenangan yang Tidak Pernah Pudar

Ruang itu ramai. Tawa-tawa lama bertemu kembali, cerita-cerita usang dihidupkan ulang, dan sebagian besar orang hanya ingin memastikan bahwa mereka baik-baik saja, meski hidup tak selalu mudah.

Nara duduk di sudut, secangkir teh hangat di tangan. Dia tidak banyak bicara. Tak perlu. Kehadirannya saja sudah cukup membawa gelombang memori bagi beberapa orang—terutama satu orang.

Dia duduk tak jauh. Sama-sama memilih diam, tapi diam yang tidak sunyi. Seperti ada percakapan tanpa suara yang terus berlangsung di antara keduanya.

Malam itu terlalu pendek untuk semua hal yang belum sempat diucapkan.

Ketika akhirnya hanya mereka berdua yang tertinggal di pelataran gedung, angin malam datang pelan, membawa aroma pohon hujan dan tanah basah. Langit sudah gelap total, tapi cahaya lampu jalan cukup untuk memperlihatkan raut wajah yang telah lama tidak mereka lihat dari jarak sedekat itu.

“Aku kira kamu nggak akan datang,” ucapnya pelan, memecah sunyi yang sejak tadi menggantung.

Nara tersenyum kecil. “Aku juga nggak yakin akan datang. Tapi ternyata kaki ini memilih ke sini.”

Hening lagi.

Mereka berdiri di batas antara masa lalu dan masa kini. Tak ada yang benar-benar tahu harus melangkah ke arah mana. Tapi malam itu, mereka sama-sama tahu satu hal: luka yang tidak dibicarakan bukan berarti telah sembuh.

“Aku sering mikir, seandainya waktu itu kita bicara lebih jujur… mungkin semuanya nggak harus berakhir seperti itu.”

Ucapan itu meluncur begitu saja dari bibirnya. Dan Nara menatapnya, bukan dengan marah, bukan dengan sedih, tapi dengan pemahaman.

“Kamu nggak salah. Aku juga salah. Kita berdua terlalu sibuk jadi kuat sampai lupa untuk saling mengerti.”

Di antara lampu jalan dan suara serangga malam, ada sesuatu yang mulai luruh. Bukan cinta. Tapi beban. Beban karena saling menyalahkan. Beban karena terlalu lama menyimpan tanya.

Dan di sana, di bawah langit yang sama, mereka berdua mulai mengerti: tidak semua yang selesai itu berakhir. Kadang, sesuatu hanya menunggu waktu untuk kembali dihadapi.

“Kalau kita diberi satu kesempatan lagi,” katanya sambil menatap lurus ke depan, “apa kamu mau ambil?”

Nara menarik napas. Lalu mengangguk pelan.

“Kalau saatnya tepat.”

Bab 3: Yang Pernah Kita Jaga Diam-Diam

Hari berikutnya datang tanpa gegap gempita. Hanya matahari yang terbit pelan dari balik jendela kamar hotel, menyelinap melalui tirai tipis dan menyentuh wajah Nara yang belum juga tidur semalaman.

Ia duduk bersandar di kepala ranjang, memandangi ponselnya yang sepi. Tak ada notifikasi penting, tak ada pesan baru. Tapi pikirannya penuh. Wajah itu, suara itu—semua kembali hadir seperti ia tak pernah pergi.

Masih pagi ketika ia memutuskan untuk keluar. Ia menyusuri trotoar kota lama yang dulu begitu dikenalnya. Bangunan-bangunan tua berdiri setia, menua bersama waktu. Di salah satu dinding toko buku kecil, ada mural usang yang dulu mereka kagumi bersama—lukisan dua anak kecil memegang layang-layang, wajahnya selalu menghadap angin.

Tanpa sadar, senyum kecil tumbuh di sudut bibir Nara.

Dari seberang jalan, seseorang memanggil namanya. Pelan. Hampir ragu.

Dia lagi.

Mereka bertemu untuk kedua kalinya, masih dalam kebetulan yang tidak terasa kebetulan. Dan untuk pertama kalinya sejak reuni malam itu, mereka berjalan berdampingan lagi.

Tak banyak bicara. Tapi tak ada yang canggung. Seolah tubuh mereka masih ingat irama langkah lama.

"Aku selalu suka tempat ini," katanya, menunjuk taman kecil dengan bangku kayu di bawah pohon trembesi.

“Kita dulu pernah ke sini waktu hujan, kan?” tanya Nara, suaranya pelan, nyaris seperti bertanya pada dirinya sendiri.

Ia mengangguk. “Kamu waktu itu bilang, hujan bikin semuanya terasa jujur.”

Nara menatapnya. “Dan kamu bilang, aku terlalu banyak menyimpan sendiri.”

Diam.

Lalu ia menoleh. “Apa kamu masih begitu sekarang?”

Ia tidak menjawab segera. Menatap tanah sebentar, lalu mendongak. “Mungkin. Tapi sekarang aku belajar… bahwa tidak semua yang dijaga diam-diam itu harus terus disimpan sendirian.”

Langit mulai mendung. Dan entah bagaimana, mereka sama-sama tahu—akan turun hujan.

Dan untuk sekali ini, tak ada yang buru-buru mencari tempat berteduh.

 

Bab 4: Jarak yang Pernah Kita Sepakati

Beberapa hari setelah pertemuan itu, mereka kembali menjalani hidup masing-masing. Tidak ada janji untuk bertemu lagi. Tidak ada pesan yang saling dikirimkan. Tapi ada sesuatu yang tertinggal di antara jeda dan diam.

Malam itu, Nara kembali duduk di balkon kamar hotelnya. Kota menyala lembut, lampu-lampu dari kejauhan berpendar seperti bintang-bintang yang tersesat. Angin malam mengibaskan rambutnya pelan. Di pangkuannya, secangkir teh yang sudah mendingin.

Pikirannya melayang ke percakapan terakhir mereka. Tentang hujan, tentang taman kecil itu, dan tentang kenangan yang entah bagaimana terasa begitu dekat sekaligus jauh.

Dulu, mereka pernah sepakat untuk memberi jarak. Bukan karena saling tidak cinta, tapi karena cinta sendiri kadang tidak cukup untuk menyatukan dua orang yang punya arah berbeda.

“Aku harus pergi,” katanya waktu itu, bertahun-tahun lalu.

“Aku tahu,” jawab Nara dengan mata yang berkaca-kaca, “dan aku nggak akan menahanmu.”

Tapi malam ini, kenangan itu tak lagi menyakitkan seperti dulu. Ia hanya hadir sebagai bagian dari perjalanan, seperti foto lama yang sudah pudar tapi tetap disimpan di sudut laci.

Dan seakan semesta paham kegundahannya, sebuah pesan masuk ke ponselnya.

“Besok kamu sibuk?”

Singkat. Tak bernama. Tapi Nara tahu siapa pengirimnya.

Ia menatap layar itu lama, sebelum akhirnya membalas.

“Tidak terlalu. Kenapa?”

Balasan datang tak lama kemudian.

“Kalau kamu mau, kita bisa ngobrol lagi. Kali ini, lebih lama.”

Nara tidak langsung menjawab. Tapi senyum kecil yang terbit di wajahnya cukup menjadi jawaban untuk malam itu.

Ada jarak yang dulu pernah mereka sepakati. Tapi sekarang, sepertinya mereka sedang perlahan-lahan mencari cara untuk menjembataninya. Tanpa tergesa. Tanpa luka. Tanpa janji pun tak apa.

Yang penting, masih ada keberanian untuk mencoba.

 

Bab 5: Duduk di Antara Diam

Kafe itu kecil dan tenang, tersembunyi di balik deretan toko-toko tua. Tidak ada musik keras, hanya denting sendok dan percakapan pelan yang terpantul dari dinding bata yang dingin. Nara datang lebih dulu. Ia memilih meja dekat jendela, tempat cahaya sore menembus tipis tirai putih yang setengah tertutup.

Ketika dia datang, tidak ada pelukan. Tidak juga sapaan yang canggung. Hanya senyum kecil, cukup untuk mengatakan, "Aku senang kamu datang."

Mereka duduk berhadapan, dengan dua cangkir kopi di antara mereka. Diam menyelimuti seperti kabut pagi—bukan mencekam, tapi cukup pekat untuk membuat mereka menahan napas.

"Aku kira kamu nggak akan datang," katanya akhirnya.

Nara mengangkat bahu. "Aku juga nggak yakin tadi pagi."

Mereka tertawa kecil. Bukan tawa lega, lebih seperti tawa orang yang terlalu lama menahan kata.

"Jadi," katanya pelan, "kita ngobrol lagi. Setelah bertahun-tahun."

"Setelah banyak hal yang nggak pernah kita bicarakan," jawab Nara.

Hening lagi.

Tapi kali ini, bukan karena tidak tahu harus berkata apa. Justru karena terlalu banyak yang ingin dikatakan, dan mereka ingin memilih dengan hati-hati.

"Aku pernah coba benci kamu," ucapnya lirih.

Nara menoleh perlahan. "Aku juga. Tapi ternyata, untuk benar-benar membenci seseorang yang pernah kamu cintai… itu pekerjaan seumur hidup."

Ia tertawa pelan, dan kali ini tawanya getir. "Dan aku terlalu sibuk hidup untuk terus-terusan melakukannya."

Mereka kembali diam. Tapi sekarang, diam itu seperti tempat istirahat. Seperti jeda dalam lagu. Bukan kehilangan, tapi bagian dari melodi.

Saat mata mereka bertemu, ada sesuatu yang jujur dan sederhana.

Mereka tahu, ini bukan tentang kembali. Tapi mungkin… tentang mengakui bahwa dulu mereka pernah saling menjadi rumah—dan entah kenapa, masih saling menyimpan kuncinya.

 

Bab 6: Di Sela-Sela Waktu

Malam itu lebih sunyi dari yang mereka kira. Setelah meninggalkan kafe kecil, mereka berjalan bersama di trotoar yang sepi, hanya ditemani lampu jalan yang remang-remang. Tidak ada percakapan yang berlebihan, hanya langkah-langkah mereka yang terdengar seperti bisikan yang saling berbalas.

Nara menyadari, betapa asingnya mereka sekarang. Bukan hanya karena waktu yang memisahkan, tetapi juga karena kenyataan bahwa begitu banyak hal yang telah mereka simpan dalam diri masing-masing. Rasa itu—perasaan yang dulu mengikat erat—sekarang terasa seperti bayangan, memudar namun tak pernah hilang.

"Kadang aku merasa seperti kita tidak pernah benar-benar berjalan pergi," katanya pelan, sambil menunduk.

Dia berjalan di sampingnya, masih dalam diam yang nyaman. Terkadang, mereka bertukar pandang, namun tidak ada yang terburu-buru untuk mengungkapkan apa yang ada di dalam hati.

"Aku juga merasa begitu," jawabnya. "Tapi mungkin itu memang cara hidup kita berjalan. Kadang kita harus berpisah, hanya untuk tahu bahwa ada bagian dari kita yang tidak bisa hilang."

Mereka berhenti sejenak di sebuah halte bus yang kosong. Nara memandang jalan yang masih tampak tenang meski jauh di sana lampu kota bersinar riuh. Sesuatu dalam diri mereka terasa penuh, seolah-olah sebuah kata-kata tak perlu diucapkan, karena semuanya telah mereka pahami dari perjalanan panjang yang telah mereka lewati.

"Apa yang kita cari, Ra?" tanyanya akhirnya, memecah keheningan yang mendalam.

Nara menatap langit malam yang tak terlihat bintang. "Aku nggak tahu. Mungkin kedamaian. Mungkin juga, jawabannya bukan di tempat yang kita pikirkan."

Ia memutar tubuhnya menghadap dia, mencoba membaca raut wajah yang tak lagi familiar. "Tapi kadang, aku merasa kita sudah terlalu lama berusaha mencari, sampai kita lupa apa yang sebenarnya kita butuhkan."

Dia terdiam, menatap ke depan, seolah-olah kata-kata itu lebih berat daripada yang ia duga. "Dan apa itu?" tanya dia akhirnya.

"Tempat untuk kembali," jawab Nara, suaranya lembut namun tegas. "Bukan untuk mencari yang hilang, tapi untuk mengakui bahwa apa yang kita alami dulu adalah bagian dari kita. Kita nggak perlu terus mencari alasan atau penjelasan. Kadang, hanya dengan menerima, kita bisa merasa cukup."

Dia tersenyum pelan, mengangguk perlahan. "Kamu selalu tahu bagaimana menjawab pertanyaanku."

Nara hanya tertawa kecil. "Bukan karena aku tahu jawabannya. Hanya saja, aku mulai belajar bahwa beberapa pertanyaan nggak perlu dijawab. Kita hanya perlu menerima jawaban yang datang tanpa paksaan."

Mereka berdiri dalam diam, merenungkan apa yang baru saja diungkapkan. Tidak ada lagi beban, hanya kedamaian yang terlahir kembali di antara mereka—perasaan yang dulu sempat terlupakan, tetapi kini kembali menyapa dengan cara yang lebih matang dan penuh penerimaan.

 

Bab 7: Ketika Perasaan Menyapa Kembali

Pagi yang cerah membawa suasana yang berbeda. Kota ini, yang biasanya ramai dan penuh dengan kegelisahan, hari ini terasa lebih tenang. Langit biru membentang luas, tanpa ada awan yang menghalangi pandangan.

Nara duduk di teras kafe tempat mereka bertemu beberapa hari lalu. Secangkir kopi hangat ada di hadapannya, dan tangannya yang terulur seakan menyentuh kenangan-kenangan yang sudah lama terkubur. Di kejauhan, dia terlihat sedang berjalan mendekat, membawa secarik harapan yang tak lagi samar.

“Kamu terlambat,” Nara menyapa sambil tersenyum, namun senyum itu terasa lebih cemas daripada yang ia sadari.

“Maaf. Terjebak kemacetan,” jawab dia, duduk di seberang Nara dengan senyum yang tetap familiar, meskipun ada perbedaan dalam tatapannya. “Tapi aku tahu kita sudah lama nggak ngobrol dengan waktu yang cuma milik kita.”

Nara mengangguk pelan, matanya melayang pada secangkir kopi yang mulai dingin. "Iya, aku juga merasa begitu."

Ada kesunyian di antara mereka, sebuah kesunyian yang tidak lagi canggung, tetapi lebih pada pengertian yang lahir tanpa perlu kata-kata. Mereka tahu, ada hal-hal yang tidak perlu dijelaskan. Seperti rasa yang sudah lama tertanam, yang kini muncul kembali dengan cara yang lebih tenang dan dewasa.

“Kamu tahu,” Nara mulai, setelah beberapa lama diam, “Aku nggak pernah benar-benar lupa tentang kita. Tentang semua yang pernah terjadi.”

Dia menatapnya, memperhatikan setiap gerak tubuhnya dengan seksama. Ada sesuatu dalam mata Nara yang berbeda—sebuah kedalaman yang belum pernah ia lihat sebelumnya. “Aku juga nggak pernah lupa, Ra. Tapi waktu membuat kita memaknai semua itu berbeda.”

“Pernahkah kamu berpikir untuk kembali ke sana?” tanya Nara dengan suara rendah, hampir seperti berbisik.

Kembali ke sana. Ke pantai yang dulu mereka datangi bersama. Ke tempat di mana mereka pertama kali saling berbicara tanpa kata, hanya dengan tatapan. Tempat di mana semuanya terasa begitu sederhana, begitu murni.

Dia menghela napas panjang, menatap ke luar jendela, seolah mencari jawabannya di sana. "Aku sudah mencoba, Ra. Tapi aku nggak tahu apakah itu yang kita butuhkan lagi. Mungkin kita sudah berubah terlalu banyak."

Nara mengangguk, tapi matanya tetap tidak lepas dari wajahnya. "Kita mungkin sudah berubah, tapi ada bagian dari kita yang tetap sama. Yang kita cari bukanlah yang dulu, tapi sesuatu yang lebih baru. Mungkin kita perlu belajar untuk melihat kita sekarang, bukan yang kita harapkan sebelumnya."

Dia terdiam, tampaknya terkesan dengan kata-kata Nara. “Kamu benar. Mungkin itu yang aku tak sadari. Kita terlalu terpaku pada masa lalu, sampai lupa bahwa kita bisa menciptakan sesuatu yang baru.”

Mereka terdiam sejenak, membiarkan kata-kata itu menggantung di udara, seperti langit yang masih begitu luas di luar sana. Mungkin memang demikian. Mungkin mereka tidak perlu kembali ke tempat itu, ke masa itu. Mungkin yang mereka perlukan hanyalah untuk menerima kenyataan bahwa keduanya sudah berbeda, tetapi itu tidak berarti harus mengakhiri segala sesuatu.

Nara menatap dia dengan senyum kecil. “Kita tidak perlu mencari kembali apa yang sudah hilang, karena mungkin saja yang hilang itu bukanlah apa yang seharusnya kita pertahankan.”

Dia tersenyum, dan untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, mereka merasa tidak ada lagi yang harus dipertanyakan.

 

Bab 8: Langkah Kecil Menuju Ketulusan Baru

Hari-hari berlalu dengan cara yang lebih damai dari yang pernah mereka bayangkan. Meskipun keduanya kembali sibuk dengan rutinitas mereka, ada sesuatu yang berbeda dalam cara mereka menjalani hari. Tidak ada lagi keraguan yang menggelayuti langkah mereka, hanya perasaan tenang yang datang tanpa paksaan.

Pagi itu, Nara memutuskan untuk tidak terburu-buru. Ia memutuskan untuk berjalan-jalan di taman kota, tempat yang sering ia kunjungi ketika merasa butuh melarikan diri dari hiruk-pikuk kehidupan. Udara pagi yang segar membawa ketenangan, dan setiap langkahnya terasa lebih ringan, lebih mantap.

Ketika ia sampai di sebuah bangku di bawah pohon besar, ia melihatnya lagi—dia, yang datang dengan senyum yang sama. Tanpa kata, hanya dengan pandangan, mereka saling mengerti. Tidak ada lagi kata-kata yang harus diucapkan. Hanya kehadiran yang cukup untuk menyampaikan semua yang tak terungkapkan.

“Aku nggak pernah benar-benar terbiasa dengan kota ini,” katanya, duduk di samping Nara dengan santai. “Semua terasa terlalu cepat. Terlalu banyak yang ingin aku kejar.”

Nara menoleh, matanya menatap wajahnya dengan penuh pengertian. “Kadang, kita lupa bahwa yang kita kejar bukanlah tujuan akhir, tapi perjalanan itu sendiri.”

Dia tersenyum kecil, tatapannya melayang ke kejauhan. “Aku rasa aku terlalu lama mengejar hal-hal yang tidak pernah aku pahami. Mungkin, perjalanan yang sebenarnya adalah memahami diri kita dulu, sebelum berpikir tentang apa yang harus kita capai.”

"Betul," Nara mengangguk, menyandarkan tubuhnya ke sandaran bangku. "Kita terlalu sering menghabiskan waktu berpikir tentang masa depan, sampai lupa bahwa masa kini adalah apa yang paling penting."

Mereka terdiam sejenak, masing-masing tenggelam dalam pikiran mereka sendiri, mencoba memahami lebih dalam tentang diri mereka dan hubungan yang pernah ada. Tetapi, kali ini, tidak ada perasaan yang terburu-buru untuk membuat keputusan besar. Tidak ada harapan yang terlalu tinggi untuk mencapai sesuatu yang sempurna.

“Kita bisa melangkah maju, kan?” tanya dia, suaranya lembut, penuh keraguan yang samar.

Nara menoleh dan tersenyum, mengangguk pelan. “Kita tidak perlu melangkah terlalu cepat. Cukup satu langkah kecil dalam waktu yang tepat.”

Dia menatap Nara, seolah mencari kepastian, namun di mata Nara, dia hanya melihat ketulusan. Tidak ada lagi luka lama yang mengganjal, tidak ada lagi bayangan masa lalu yang menahan. Hanya sebuah ruang kosong yang siap diisi dengan hal-hal baru—perasaan yang lebih dewasa, lebih tenang, dan lebih diterima.

"Apa yang akan kita lakukan sekarang?" tanya dia, matanya menyelidik, mencari arah.

"Kita akan melangkah, tidak terburu-buru. Seperti halnya kita memulai perjalanan ini—perlahan, tanpa ada ekspektasi," jawab Nara dengan suara yang lebih yakin.

“Dan kita akan melihat ke mana langkah itu membawa kita,” katanya, sebuah senyum kecil mulai terbit di wajahnya.

Mereka duduk di sana untuk beberapa saat lagi, menikmati ketenangan yang ada. Tidak ada percakapan besar yang perlu terjadi. Hanya dua orang yang duduk bersama, merasakan bahwa kadang, kebersamaan itu cukup untuk membuat segalanya terasa lebih baik.

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar