“Jika Bukan Kamu, Siapa Lagi Selain
Kamu: Entah Sampai Kapan - Pulang yang Tertunda”
Bab 1: Suatu Hari di Musim yang
Berbeda
Sudah bertahun-tahun sejak hari itu di pantai.
Sejak langkah kaki mereka meninggalkan jejak di pasir, dan hati mereka saling
berjanji tanpa suara.
Nara kini tinggal di kota yang berbeda. Sibuk.
Pekerjaannya menuntut banyak, tapi ia tidak pernah benar-benar keberatan.
Kesibukan, baginya, adalah cara paling elegan untuk lupa.
Namun, ada hari-hari di mana ia masih terjaga
di tengah malam. Bukan karena takut. Bukan karena sedih. Hanya karena ada
bagian dari dirinya yang belum selesai. Yang belum benar-benar pulang.
Sementara itu, sosok yang pernah bersamanya
telah menempuh jalan yang juga tak mudah. Bukan karena pilihan, melainkan
karena keadaan. Ia tumbuh, belajar mencintai dengan cara baru, dan mencoba
meyakini bahwa kisah mereka memang hanya ditakdirkan singkat.
Tapi takdir punya cara sendiri untuk
mengejutkan.
Pada suatu hari yang biasa, keduanya
dipertemukan kembali. Bukan dalam skenario romantis seperti film. Tapi dalam
kebetulan kecil yang mengubah segalanya.
Sebuah acara reuni. Undangan yang nyasar ke
email lama. Dan akhirnya, tatapan yang tak bisa mereka hindari.
Mereka sudah berbeda. Lebih dewasa. Lebih
tenang. Tapi ada satu hal yang tetap sama—mata mereka masih mengenali satu sama
lain. Seolah waktu tak pernah benar-benar memisahkan.
Malam itu, tak ada yang terburu-buru membuka
luka lama. Tapi juga tak ada yang berpura-pura tidak pernah saling mencintai.
“Masih ingat pantai itu?”
Nara tersenyum kecil. “Aku bahkan masih bisa dengar suara ombaknya.”
Dia tertawa, lalu menatap langit yang mulai gelap.
“Mungkin kita nggak pernah benar-benar pergi dari sana.”
Bab 2: Kenangan yang Tidak Pernah
Pudar
Ruang itu ramai. Tawa-tawa lama bertemu
kembali, cerita-cerita usang dihidupkan ulang, dan sebagian besar orang hanya
ingin memastikan bahwa mereka baik-baik saja, meski hidup tak selalu mudah.
Nara duduk di sudut, secangkir teh hangat di
tangan. Dia tidak banyak bicara. Tak perlu. Kehadirannya saja sudah cukup
membawa gelombang memori bagi beberapa orang—terutama satu orang.
Dia duduk tak jauh. Sama-sama memilih diam,
tapi diam yang tidak sunyi. Seperti ada percakapan tanpa suara yang terus
berlangsung di antara keduanya.
Malam itu terlalu pendek untuk semua hal yang
belum sempat diucapkan.
Ketika akhirnya hanya mereka berdua yang
tertinggal di pelataran gedung, angin malam datang pelan, membawa aroma pohon
hujan dan tanah basah. Langit sudah gelap total, tapi cahaya lampu jalan cukup
untuk memperlihatkan raut wajah yang telah lama tidak mereka lihat dari jarak
sedekat itu.
“Aku kira kamu nggak akan datang,” ucapnya
pelan, memecah sunyi yang sejak tadi menggantung.
Nara tersenyum kecil. “Aku juga nggak yakin
akan datang. Tapi ternyata kaki ini memilih ke sini.”
Hening lagi.
Mereka berdiri di batas antara masa lalu dan
masa kini. Tak ada yang benar-benar tahu harus melangkah ke arah mana. Tapi
malam itu, mereka sama-sama tahu satu hal: luka yang tidak dibicarakan bukan
berarti telah sembuh.
“Aku sering mikir, seandainya waktu itu kita
bicara lebih jujur… mungkin semuanya nggak harus berakhir seperti itu.”
Ucapan itu meluncur begitu saja dari bibirnya.
Dan Nara menatapnya, bukan dengan marah, bukan dengan sedih, tapi dengan
pemahaman.
“Kamu nggak salah. Aku juga salah. Kita berdua
terlalu sibuk jadi kuat sampai lupa untuk saling mengerti.”
Di antara lampu jalan dan suara serangga
malam, ada sesuatu yang mulai luruh. Bukan cinta. Tapi beban. Beban karena
saling menyalahkan. Beban karena terlalu lama menyimpan tanya.
Dan di sana, di bawah langit yang sama, mereka
berdua mulai mengerti: tidak semua yang selesai itu berakhir. Kadang, sesuatu
hanya menunggu waktu untuk kembali dihadapi.
“Kalau kita diberi satu kesempatan lagi,”
katanya sambil menatap lurus ke depan, “apa kamu mau ambil?”
Nara menarik napas. Lalu mengangguk pelan.
“Kalau saatnya tepat.”
Bab 3: Yang Pernah Kita Jaga Diam-Diam
Hari berikutnya datang tanpa gegap gempita.
Hanya matahari yang terbit pelan dari balik jendela kamar hotel, menyelinap
melalui tirai tipis dan menyentuh wajah Nara yang belum juga tidur semalaman.
Ia duduk bersandar di kepala ranjang,
memandangi ponselnya yang sepi. Tak ada notifikasi penting, tak ada pesan baru.
Tapi pikirannya penuh. Wajah itu, suara itu—semua kembali hadir seperti ia tak
pernah pergi.
Masih pagi ketika ia memutuskan untuk keluar.
Ia menyusuri trotoar kota lama yang dulu begitu dikenalnya. Bangunan-bangunan
tua berdiri setia, menua bersama waktu. Di salah satu dinding toko buku kecil,
ada mural usang yang dulu mereka kagumi bersama—lukisan dua anak kecil memegang
layang-layang, wajahnya selalu menghadap angin.
Tanpa sadar, senyum kecil tumbuh di sudut
bibir Nara.
Dari seberang jalan, seseorang memanggil
namanya. Pelan. Hampir ragu.
Dia lagi.
Mereka bertemu untuk kedua kalinya, masih
dalam kebetulan yang tidak terasa kebetulan. Dan untuk pertama kalinya sejak reuni
malam itu, mereka berjalan berdampingan lagi.
Tak banyak bicara. Tapi tak ada yang canggung.
Seolah tubuh mereka masih ingat irama langkah lama.
"Aku selalu suka tempat ini,"
katanya, menunjuk taman kecil dengan bangku kayu di bawah pohon trembesi.
“Kita dulu pernah ke sini waktu hujan, kan?”
tanya Nara, suaranya pelan, nyaris seperti bertanya pada dirinya sendiri.
Ia mengangguk. “Kamu waktu itu bilang, hujan
bikin semuanya terasa jujur.”
Nara menatapnya. “Dan kamu bilang, aku terlalu
banyak menyimpan sendiri.”
Diam.
Lalu ia menoleh. “Apa kamu masih begitu
sekarang?”
Ia tidak menjawab segera. Menatap tanah
sebentar, lalu mendongak. “Mungkin. Tapi sekarang aku belajar… bahwa tidak
semua yang dijaga diam-diam itu harus terus disimpan sendirian.”
Langit mulai mendung. Dan entah bagaimana,
mereka sama-sama tahu—akan turun hujan.
Dan untuk sekali ini, tak ada yang buru-buru
mencari tempat berteduh.
Bab 4: Jarak yang Pernah Kita Sepakati
Beberapa hari setelah pertemuan itu, mereka
kembali menjalani hidup masing-masing. Tidak ada janji untuk bertemu lagi.
Tidak ada pesan yang saling dikirimkan. Tapi ada sesuatu yang tertinggal di
antara jeda dan diam.
Malam itu, Nara kembali duduk di balkon kamar
hotelnya. Kota menyala lembut, lampu-lampu dari kejauhan berpendar seperti
bintang-bintang yang tersesat. Angin malam mengibaskan rambutnya pelan. Di
pangkuannya, secangkir teh yang sudah mendingin.
Pikirannya melayang ke percakapan terakhir
mereka. Tentang hujan, tentang taman kecil itu, dan tentang kenangan yang entah
bagaimana terasa begitu dekat sekaligus jauh.
Dulu, mereka pernah sepakat untuk memberi
jarak. Bukan karena saling tidak cinta, tapi karena cinta sendiri kadang tidak
cukup untuk menyatukan dua orang yang punya arah berbeda.
“Aku harus pergi,” katanya waktu itu,
bertahun-tahun lalu.
“Aku tahu,” jawab Nara dengan mata yang
berkaca-kaca, “dan aku nggak akan menahanmu.”
Tapi malam ini, kenangan itu tak lagi
menyakitkan seperti dulu. Ia hanya hadir sebagai bagian dari perjalanan,
seperti foto lama yang sudah pudar tapi tetap disimpan di sudut laci.
Dan seakan semesta paham kegundahannya, sebuah
pesan masuk ke ponselnya.
“Besok kamu sibuk?”
Singkat. Tak bernama. Tapi Nara tahu siapa
pengirimnya.
Ia menatap layar itu lama, sebelum akhirnya
membalas.
“Tidak terlalu. Kenapa?”
Balasan datang tak lama kemudian.
“Kalau kamu mau, kita bisa ngobrol lagi. Kali
ini, lebih lama.”
Nara tidak langsung menjawab. Tapi senyum
kecil yang terbit di wajahnya cukup menjadi jawaban untuk malam itu.
Ada jarak yang dulu pernah mereka sepakati.
Tapi sekarang, sepertinya mereka sedang perlahan-lahan mencari cara untuk
menjembataninya. Tanpa tergesa. Tanpa luka. Tanpa janji pun tak apa.
Yang penting, masih ada keberanian untuk
mencoba.
Bab 5: Duduk di Antara Diam
Kafe itu kecil dan tenang, tersembunyi di
balik deretan toko-toko tua. Tidak ada musik keras, hanya denting sendok dan
percakapan pelan yang terpantul dari dinding bata yang dingin. Nara datang
lebih dulu. Ia memilih meja dekat jendela, tempat cahaya sore menembus tipis
tirai putih yang setengah tertutup.
Ketika dia datang, tidak ada pelukan. Tidak
juga sapaan yang canggung. Hanya senyum kecil, cukup untuk mengatakan, "Aku
senang kamu datang."
Mereka duduk berhadapan, dengan dua cangkir
kopi di antara mereka. Diam menyelimuti seperti kabut pagi—bukan mencekam, tapi
cukup pekat untuk membuat mereka menahan napas.
"Aku kira kamu nggak akan datang,"
katanya akhirnya.
Nara mengangkat bahu. "Aku juga nggak
yakin tadi pagi."
Mereka tertawa kecil. Bukan tawa lega, lebih
seperti tawa orang yang terlalu lama menahan kata.
"Jadi," katanya pelan, "kita
ngobrol lagi. Setelah bertahun-tahun."
"Setelah banyak hal yang nggak pernah
kita bicarakan," jawab Nara.
Hening lagi.
Tapi kali ini, bukan karena tidak tahu harus
berkata apa. Justru karena terlalu banyak yang ingin dikatakan, dan mereka
ingin memilih dengan hati-hati.
"Aku pernah coba benci kamu,"
ucapnya lirih.
Nara menoleh perlahan. "Aku juga. Tapi
ternyata, untuk benar-benar membenci seseorang yang pernah kamu cintai… itu
pekerjaan seumur hidup."
Ia tertawa pelan, dan kali ini tawanya getir.
"Dan aku terlalu sibuk hidup untuk terus-terusan melakukannya."
Mereka kembali diam. Tapi sekarang, diam itu
seperti tempat istirahat. Seperti jeda dalam lagu. Bukan kehilangan, tapi
bagian dari melodi.
Saat mata mereka bertemu, ada sesuatu yang
jujur dan sederhana.
Mereka tahu, ini bukan tentang kembali. Tapi
mungkin… tentang mengakui bahwa dulu mereka pernah saling menjadi rumah—dan
entah kenapa, masih saling menyimpan kuncinya.
Bab 6: Di Sela-Sela Waktu
Malam itu lebih sunyi dari yang mereka kira.
Setelah meninggalkan kafe kecil, mereka berjalan bersama di trotoar yang sepi,
hanya ditemani lampu jalan yang remang-remang. Tidak ada percakapan yang
berlebihan, hanya langkah-langkah mereka yang terdengar seperti bisikan yang
saling berbalas.
Nara menyadari, betapa asingnya mereka
sekarang. Bukan hanya karena waktu yang memisahkan, tetapi juga karena
kenyataan bahwa begitu banyak hal yang telah mereka simpan dalam diri
masing-masing. Rasa itu—perasaan yang dulu mengikat erat—sekarang terasa
seperti bayangan, memudar namun tak pernah hilang.
"Kadang aku merasa seperti kita tidak pernah
benar-benar berjalan pergi," katanya pelan, sambil menunduk.
Dia berjalan di sampingnya, masih dalam diam
yang nyaman. Terkadang, mereka bertukar pandang, namun tidak ada yang
terburu-buru untuk mengungkapkan apa yang ada di dalam hati.
"Aku juga merasa begitu," jawabnya.
"Tapi mungkin itu memang cara hidup kita berjalan. Kadang kita harus
berpisah, hanya untuk tahu bahwa ada bagian dari kita yang tidak bisa
hilang."
Mereka berhenti sejenak di sebuah halte bus
yang kosong. Nara memandang jalan yang masih tampak tenang meski jauh di sana
lampu kota bersinar riuh. Sesuatu dalam diri mereka terasa penuh, seolah-olah
sebuah kata-kata tak perlu diucapkan, karena semuanya telah mereka pahami dari
perjalanan panjang yang telah mereka lewati.
"Apa yang kita cari, Ra?" tanyanya
akhirnya, memecah keheningan yang mendalam.
Nara menatap langit malam yang tak terlihat
bintang. "Aku nggak tahu. Mungkin kedamaian. Mungkin juga, jawabannya
bukan di tempat yang kita pikirkan."
Ia memutar tubuhnya menghadap dia, mencoba membaca
raut wajah yang tak lagi familiar. "Tapi kadang, aku merasa kita sudah
terlalu lama berusaha mencari, sampai kita lupa apa yang sebenarnya kita
butuhkan."
Dia terdiam, menatap ke depan, seolah-olah
kata-kata itu lebih berat daripada yang ia duga. "Dan apa itu?" tanya
dia akhirnya.
"Tempat untuk kembali," jawab Nara,
suaranya lembut namun tegas. "Bukan untuk mencari yang hilang, tapi untuk
mengakui bahwa apa yang kita alami dulu adalah bagian dari kita. Kita nggak
perlu terus mencari alasan atau penjelasan. Kadang, hanya dengan menerima, kita
bisa merasa cukup."
Dia tersenyum pelan, mengangguk perlahan.
"Kamu selalu tahu bagaimana menjawab pertanyaanku."
Nara hanya tertawa kecil. "Bukan karena
aku tahu jawabannya. Hanya saja, aku mulai belajar bahwa beberapa pertanyaan
nggak perlu dijawab. Kita hanya perlu menerima jawaban yang datang tanpa
paksaan."
Mereka berdiri dalam diam, merenungkan apa
yang baru saja diungkapkan. Tidak ada lagi beban, hanya kedamaian yang terlahir
kembali di antara mereka—perasaan yang dulu sempat terlupakan, tetapi kini
kembali menyapa dengan cara yang lebih matang dan penuh penerimaan.
Bab 7: Ketika Perasaan Menyapa Kembali
Pagi yang cerah membawa suasana yang berbeda.
Kota ini, yang biasanya ramai dan penuh dengan kegelisahan, hari ini terasa
lebih tenang. Langit biru membentang luas, tanpa ada awan yang menghalangi
pandangan.
Nara duduk di teras kafe tempat mereka bertemu
beberapa hari lalu. Secangkir kopi hangat ada di hadapannya, dan tangannya yang
terulur seakan menyentuh kenangan-kenangan yang sudah lama terkubur. Di
kejauhan, dia terlihat sedang berjalan mendekat, membawa secarik harapan yang
tak lagi samar.
“Kamu terlambat,” Nara menyapa sambil
tersenyum, namun senyum itu terasa lebih cemas daripada yang ia sadari.
“Maaf. Terjebak kemacetan,” jawab dia, duduk
di seberang Nara dengan senyum yang tetap familiar, meskipun ada perbedaan
dalam tatapannya. “Tapi aku tahu kita sudah lama nggak ngobrol dengan waktu
yang cuma milik kita.”
Nara mengangguk pelan, matanya melayang pada
secangkir kopi yang mulai dingin. "Iya, aku juga merasa begitu."
Ada kesunyian di antara mereka, sebuah
kesunyian yang tidak lagi canggung, tetapi lebih pada pengertian yang lahir
tanpa perlu kata-kata. Mereka tahu, ada hal-hal yang tidak perlu dijelaskan.
Seperti rasa yang sudah lama tertanam, yang kini muncul kembali dengan cara
yang lebih tenang dan dewasa.
“Kamu tahu,” Nara mulai, setelah beberapa lama
diam, “Aku nggak pernah benar-benar lupa tentang kita. Tentang semua yang
pernah terjadi.”
Dia menatapnya, memperhatikan setiap gerak
tubuhnya dengan seksama. Ada sesuatu dalam mata Nara yang berbeda—sebuah
kedalaman yang belum pernah ia lihat sebelumnya. “Aku juga nggak pernah lupa,
Ra. Tapi waktu membuat kita memaknai semua itu berbeda.”
“Pernahkah kamu berpikir untuk kembali ke
sana?” tanya Nara dengan suara rendah, hampir seperti berbisik.
Kembali ke sana. Ke pantai yang dulu mereka
datangi bersama. Ke tempat di mana mereka pertama kali saling berbicara tanpa
kata, hanya dengan tatapan. Tempat di mana semuanya terasa begitu sederhana,
begitu murni.
Dia menghela napas panjang, menatap ke luar
jendela, seolah mencari jawabannya di sana. "Aku sudah mencoba, Ra. Tapi
aku nggak tahu apakah itu yang kita butuhkan lagi. Mungkin kita sudah berubah
terlalu banyak."
Nara mengangguk, tapi matanya tetap tidak
lepas dari wajahnya. "Kita mungkin sudah berubah, tapi ada bagian dari
kita yang tetap sama. Yang kita cari bukanlah yang dulu, tapi sesuatu yang
lebih baru. Mungkin kita perlu belajar untuk melihat kita sekarang, bukan yang
kita harapkan sebelumnya."
Dia terdiam, tampaknya terkesan dengan
kata-kata Nara. “Kamu benar. Mungkin itu yang aku tak sadari. Kita terlalu
terpaku pada masa lalu, sampai lupa bahwa kita bisa menciptakan sesuatu yang
baru.”
Mereka terdiam sejenak, membiarkan kata-kata
itu menggantung di udara, seperti langit yang masih begitu luas di luar sana.
Mungkin memang demikian. Mungkin mereka tidak perlu kembali ke tempat itu, ke
masa itu. Mungkin yang mereka perlukan hanyalah untuk menerima kenyataan bahwa
keduanya sudah berbeda, tetapi itu tidak berarti harus mengakhiri segala
sesuatu.
Nara menatap dia dengan senyum kecil. “Kita
tidak perlu mencari kembali apa yang sudah hilang, karena mungkin saja yang
hilang itu bukanlah apa yang seharusnya kita pertahankan.”
Dia tersenyum, dan untuk pertama kalinya dalam
waktu yang lama, mereka merasa tidak ada lagi yang harus dipertanyakan.
Bab 8: Langkah Kecil Menuju Ketulusan
Baru
Hari-hari berlalu dengan cara yang lebih damai
dari yang pernah mereka bayangkan. Meskipun keduanya kembali sibuk dengan
rutinitas mereka, ada sesuatu yang berbeda dalam cara mereka menjalani hari.
Tidak ada lagi keraguan yang menggelayuti langkah mereka, hanya perasaan tenang
yang datang tanpa paksaan.
Pagi itu, Nara memutuskan untuk tidak
terburu-buru. Ia memutuskan untuk berjalan-jalan di taman kota, tempat yang
sering ia kunjungi ketika merasa butuh melarikan diri dari hiruk-pikuk
kehidupan. Udara pagi yang segar membawa ketenangan, dan setiap langkahnya
terasa lebih ringan, lebih mantap.
Ketika ia sampai di sebuah bangku di bawah
pohon besar, ia melihatnya lagi—dia, yang datang dengan senyum yang sama. Tanpa
kata, hanya dengan pandangan, mereka saling mengerti. Tidak ada lagi kata-kata
yang harus diucapkan. Hanya kehadiran yang cukup untuk menyampaikan semua yang
tak terungkapkan.
“Aku nggak pernah benar-benar terbiasa dengan
kota ini,” katanya, duduk di samping Nara dengan santai. “Semua terasa terlalu
cepat. Terlalu banyak yang ingin aku kejar.”
Nara menoleh, matanya menatap wajahnya dengan
penuh pengertian. “Kadang, kita lupa bahwa yang kita kejar bukanlah tujuan
akhir, tapi perjalanan itu sendiri.”
Dia tersenyum kecil, tatapannya melayang ke
kejauhan. “Aku rasa aku terlalu lama mengejar hal-hal yang tidak pernah aku
pahami. Mungkin, perjalanan yang sebenarnya adalah memahami diri kita dulu,
sebelum berpikir tentang apa yang harus kita capai.”
"Betul," Nara mengangguk,
menyandarkan tubuhnya ke sandaran bangku. "Kita terlalu sering
menghabiskan waktu berpikir tentang masa depan, sampai lupa bahwa masa kini
adalah apa yang paling penting."
Mereka terdiam sejenak, masing-masing
tenggelam dalam pikiran mereka sendiri, mencoba memahami lebih dalam tentang
diri mereka dan hubungan yang pernah ada. Tetapi, kali ini, tidak ada perasaan
yang terburu-buru untuk membuat keputusan besar. Tidak ada harapan yang terlalu
tinggi untuk mencapai sesuatu yang sempurna.
“Kita bisa melangkah maju, kan?” tanya dia,
suaranya lembut, penuh keraguan yang samar.
Nara menoleh dan tersenyum, mengangguk pelan.
“Kita tidak perlu melangkah terlalu cepat. Cukup satu langkah kecil dalam waktu
yang tepat.”
Dia menatap Nara, seolah mencari kepastian,
namun di mata Nara, dia hanya melihat ketulusan. Tidak ada lagi luka lama yang
mengganjal, tidak ada lagi bayangan masa lalu yang menahan. Hanya sebuah ruang
kosong yang siap diisi dengan hal-hal baru—perasaan yang lebih dewasa, lebih
tenang, dan lebih diterima.
"Apa yang akan kita lakukan
sekarang?" tanya dia, matanya menyelidik, mencari arah.
"Kita akan melangkah, tidak terburu-buru.
Seperti halnya kita memulai perjalanan ini—perlahan, tanpa ada
ekspektasi," jawab Nara dengan suara yang lebih yakin.
“Dan kita akan melihat ke mana langkah itu
membawa kita,” katanya, sebuah senyum kecil mulai terbit di wajahnya.
Mereka duduk di sana untuk beberapa saat lagi,
menikmati ketenangan yang ada. Tidak ada percakapan besar yang perlu terjadi.
Hanya dua orang yang duduk bersama, merasakan bahwa kadang, kebersamaan itu
cukup untuk membuat segalanya terasa lebih baik.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar