“Jika Bukan Kamu, Siapa Lagi Selain
Kamu: Takdir yang Menyatukan Kembali”
Bab 10: Takdir yang Menyatukan Kembali
Kehidupan sering kali membawa kita pada jalan
yang tidak pernah kita duga. Begitu pun dengan Nara dan Awan. Meskipun mereka
sudah jauh melangkah dalam kehidupan masing-masing, takdir sepertinya tidak
begitu mudah melepaskan mereka dari hubungan yang telah terjalin lama, meskipun
kini dalam bentuk yang berbeda.
Semuanya dimulai dengan sebuah kesempatan
baru. Nara, yang sudah merasa nyaman dengan kehidupan keluarga dan pekerjaannya
sebagai manajer pemasaran di sebuah perusahaan besar, tiba-tiba mendapat
tawaran yang menggiurkan. Sebuah perusahaan teknologi yang sedang berkembang
pesat di bidang pengembangan perangkat lunak menawarkan posisi yang lebih
tinggi. Posisi itu tentu saja memberikan tantangan yang lebih besar, serta
peluang untuk berkembang. Tanpa ragu, Nara memutuskan untuk menerima tawaran
tersebut. Dia merasa ini adalah saat yang tepat untuk kembali mengejar ambisinya
setelah sekian lama lebih fokus pada keluarga.
Di sisi lain, Awan, yang sudah cukup lama
bekerja sebagai kepala divisi riset di sebuah perusahaan terkemuka, juga
mendapat tawaran untuk bergabung dengan perusahaan yang sama. Berbeda dengan
Nara, Awan lebih tertarik dengan bidang teknologi yang sedang berkembang pesat.
Perusahaan itu menawarkan kesempatan untuk memimpin tim riset yang akan
mengembangkan produk baru yang revolusioner. Seperti Nara, Awan pun merasa ini
adalah waktu yang tepat untuk meraih pencapaian baru dalam kariernya.
Mereka berdua, tanpa saling mengetahui satu
sama lain, menerima tawaran dari perusahaan yang sama—dan tanpa diduga, mereka
berakhir di ruang yang sama. Ketika pertama kali masuk ke perusahaan itu, Nara
merasa ada yang familiar. Bau kopi dari mesin pembuat kopi di sudut ruangan,
desain kantor yang modern dan terbuka, serta suara ketukan keyboard yang
terdengar di setiap sudut. Tetapi perasaan itu tidak cukup kuat untuk
membawanya kembali ke masa lalu—sehingga ia melangkah lebih jauh menuju
ruangannya yang baru.
Namun, segalanya berubah saat sebuah pertemuan
antar divisi digelar untuk memulai proyek besar yang akan menggabungkan
berbagai tim. Nara memasuki ruang konferensi, dan di sana, di hadapan semua
rekan kerjanya, ia melihat seseorang yang sangat dikenalnya—Awan. Matanya
bertemu dengan Awan, dan sekejap itu terasa seperti waktu berhenti.
"Awan?" suara Nara terputus, tak
percaya dengan apa yang dilihatnya.
Awan yang sudah berdiri di depan papan tulis,
membalikkan badan dan menatap Nara dengan tatapan yang sama terkejutnya.
Wajahnya memerah sejenak, seperti terhenti oleh kilas kenangan yang datang
begitu saja. Suasana di ruangan itu seketika menjadi hening. Semua mata tertuju
pada mereka, tetapi sepertinya hanya mereka berdua yang ada di sana.
"A... Nara?" Awan akhirnya bisa
berkata, mencoba mengendalikan diri. "Kamu... di sini?"
Nara mengangguk perlahan, berusaha menjaga
sikap profesional meski jantungnya berdegup kencang. "Iya, sepertinya kita
takdir bertemu lagi."
Awan tersenyum tipis. "Takdir, ya...
sepertinya kita memang tak pernah bisa benar-benar terpisah."
Di dalam hati mereka, sebuah perasaan yang
dalam dan lama terkubur, kembali muncul. Namun kali ini, mereka tahu bahwa ini
bukan tentang mengulang apa yang sudah lalu. Ini tentang menghadapi kenyataan
baru, tentang bekerja bersama di sebuah perusahaan yang memiliki visi yang
sama, namun di divisi yang berbeda.
Setelah pertemuan itu, mereka kembali
melanjutkan pekerjaan mereka masing-masing, namun hubungan mereka mulai terasa
berbeda. Mereka bekerja dengan sangat profesional, tetapi setiap pertemuan,
setiap diskusi yang melibatkan keduanya, selalu meninggalkan bekas—entah itu
senyum kecil, tatapan yang tidak bisa dihindari, atau kenangan yang perlahan
kembali mengisi ruang di antara mereka.
Waktu pun berlalu. Meski bekerja di divisi
yang berbeda, mereka sering kali berinteraksi dalam proyek-proyek bersama,
berbagi ide dan berdiskusi tentang inovasi. Masing-masing dari mereka semakin
dihormati di bidangnya. Namun, di setiap pertemuan mereka, meskipun tidak ada
kata-kata yang terlalu dalam, keduanya bisa merasakan kehadiran satu sama
lain—seperti dua kekuatan yang saling tarik menarik meskipun tidak ada yang
bisa mereka ubah.
Malam-malam yang panjang di kantor, di mana
mereka terpaksa menghabiskan waktu lebih lama, kadang membawa mereka untuk
duduk berdua. Tanpa terasa, percakapan tentang pekerjaan sering kali meluas
menjadi percakapan pribadi—tentang kehidupan, masa lalu, dan segala yang
terjadi sejak pertemuan terakhir mereka.
"Aku masih ingat bagaimana kita dulu
sering duduk di tepi pantai, menunggu matahari terbenam," kata Nara suatu
malam, saat mereka berdua hanya duduk di ruang makan kantor, secangkir kopi di
tangan masing-masing.
Awan mengangguk, mata sejenak mengembara jauh,
seolah meresapi kata-kata itu. "Aku juga. Tapi sekarang rasanya semuanya
sudah berbeda, ya? Kita tidak bisa kembali ke masa itu."
Nara tersenyum lembut, ada rasa yang sulit
diungkapkan. "Mungkin kita memang tidak bisa. Tapi kita bisa berjalan
maju. Meski dengan cara yang berbeda."
Awan menatap Nara, dan untuk pertama kalinya
dalam waktu yang lama, dia merasa damai. Mereka tidak perlu kembali ke masa
lalu, tidak perlu menyesali apa yang telah terjadi. Mereka sudah menemukan
jalan masing-masing. Mungkin mereka tak lagi berada di jalur yang sama seperti
dulu, tetapi mereka tahu—takdir kembali mempertemukan mereka di sini, dalam
bentuk yang lebih dewasa dan lebih siap menerima kenyataan hidup.
Bab 11: Titik Temu yang Baru
Minggu-minggu berikutnya di perusahaan terasa
seperti sebuah perjalanan baru bagi Nara dan Awan. Meskipun tak lagi ada
kedekatan seperti dulu, keduanya mulai belajar untuk melihat satu sama lain
dengan cara yang berbeda. Mereka menjadi lebih fokus pada pekerjaan
masing-masing, namun tak bisa mengelak dari kenyataan bahwa takdir seringkali
mempertemukan mereka di proyek-proyek besar.
Pernah suatu kali, Nara dan Awan harus bekerja
bersama dalam sebuah tim untuk mengembangkan produk terbaru perusahaan. Mereka
berada di dalam ruang konferensi yang sama, berdiskusi tentang ide-ide inovatif
yang akan membawa perusahaan menuju kesuksesan. Terkadang, tanpa disadari,
tatapan mereka bertemu—dan dalam sekejap, ada perasaan yang sulit dijelaskan.
Tak bisa dipungkiri, meskipun mereka sudah berusaha keras untuk memisahkan diri
dari masa lalu, ada bagian dari mereka yang selalu terikat.
Namun, kali ini mereka berdua sepakat—ini
bukan tentang melangkah mundur atau kembali ke masa lalu. Ini tentang
menghargai apa yang ada di depan mereka, tentang bekerja dengan sepenuh hati
tanpa melibatkan perasaan yang mengganggu.
Satu malam, setelah jam kerja selesai, Nara
dan Awan menemukan diri mereka berdiri di balkon gedung perusahaan, memandang
ke arah kota yang gemerlap. Angin malam yang sejuk menyapu wajah mereka. Hanya
ada suara gemericik air dari kolam di bawah mereka dan suara langkah kaki yang
jauh di belakang. Sepertinya, hanya ada mereka berdua di sana, dalam keheningan
yang nyaman.
"Aku dulu pernah berpikir kita akan
selalu seperti ini, selalu bersama," kata Nara pelan, menatap ke arah
cakrawala.
Awan mengangguk, matanya mengikuti
pandangannya. "Aku juga, Ra. Tapi hidup ternyata membawa kita ke jalan
yang berbeda. Mungkin itu yang seharusnya terjadi."
Nara tersenyum, walaupun ada sedikit kesedihan
di dalam senyum itu. "Kita tidak bisa mengubah apa yang sudah terjadi.
Tapi kita bisa belajar dari itu, kan?"
Awan menoleh dan menatapnya dengan tatapan
penuh pengertian. "Iya, kita bisa. Dan aku rasa kita sudah cukup dewasa
untuk memahami bahwa kehidupan memang bukan tentang mencari yang hilang, tetapi
tentang menerima yang ada."
Mereka terdiam beberapa saat, menikmati
ketenangan malam itu. Tidak ada kata-kata besar yang perlu diucapkan. Mereka
hanya berdua, berdiri di sana, saling berbagi ruang tanpa beban. Mungkin mereka
sudah tidak lagi bisa kembali seperti dulu, tetapi mereka tahu—mereka telah
menemukan cara untuk berdamai dengan masa lalu dan menghargai hubungan yang ada
saat ini.
Sejak malam itu, hubungan mereka semakin
berkembang. Tak lagi ada keraguan atau kecanggungan di antara mereka. Mereka
berdua tahu bahwa apa yang terjadi di masa lalu adalah bagian dari perjalanan
yang membentuk mereka menjadi siapa mereka hari ini.
Pekerjaan menjadi lebih menyenangkan, meskipun
mereka tetap bekerja di divisi yang berbeda. Namun, kehadiran satu sama lain
memberikan semacam ketenangan. Mereka mulai berbicara lebih sering, berbagi
pandangan dan gagasan, bahkan terkadang meluangkan waktu untuk makan siang
bersama, tertawa ringan dan bercerita tentang kehidupan mereka yang telah berubah
begitu banyak.
Tak ada lagi bayang-bayang cinta yang tak
terungkap. Hanya ada dua individu yang saling menghargai dan saling mendukung,
meskipun jalan hidup mereka berbeda. Mereka menyadari bahwa terkadang, perasaan
bisa bertransformasi menjadi sesuatu yang lebih dalam, sesuatu yang tidak
melibatkan romantisme semata, tetapi juga persahabatan dan saling pengertian.
Seiring berjalannya waktu, proyek-proyek
mereka semakin berhasil. Mereka meraih prestasi, membawa perusahaan maju ke
arah yang lebih baik. Namun, di balik kesuksesan itu, mereka tahu—ini bukan
hanya tentang hasil pekerjaan mereka, tetapi juga tentang bagaimana mereka
mampu berdamai dengan diri mereka sendiri, dengan kenangan, dan dengan perasaan
yang lama terkubur.
Bab 12: Titik Balik dalam Hidup
Beberapa tahun berlalu, dan
pertemuan-pertemuan Nara dan Awan di kantor menjadi semakin jarang. Mereka
sudah berada pada jalur mereka masing-masing. Nara semakin terlibat dalam dunia
manajemen, sementara Awan terus mendalami riset dan pengembangan teknologi.
Namun, suatu hari, Nara menerima telepon yang
mengubah segalanya. Salah satu proyek besar perusahaan mengalami kegagalan yang
tak terduga, dan kini perusahaan sedang dalam kondisi yang cukup kritis. Awan
dan Nara dipanggil untuk menjadi bagian dari tim penyelamat, untuk bekerja sama
menyelamatkan perusahaan dari kejatuhan.
Kali ini, mereka bekerja lebih dekat daripada
sebelumnya. Tak hanya dalam hal pekerjaan, tetapi juga dalam hubungan pribadi
mereka. Tanpa mereka sadari, kerjasama mereka menghidupkan kembali ikatan yang
dulunya pernah ada. Meskipun tidak ada lagi cinta yang mendalam seperti dulu,
ada kehangatan yang tak terungkapkan. Mereka saling memahami, saling memberi
semangat, dan saling mendukung dalam setiap langkah yang mereka ambil.
Awan menyadari bahwa meskipun mereka sudah
berpisah, mereka masih punya sesuatu yang berharga. Nara juga merasakan hal
yang sama—bahwa terkadang, tidak perlu ada romansa dalam hubungan untuk
membuatnya berharga. Mereka sudah cukup dewasa untuk menghargai kehadiran satu
sama lain, dan itu sudah lebih dari cukup.
Kehidupan mereka pun terus berjalan. Nara dan
Awan melanjutkan pekerjaan mereka dengan penuh dedikasi, namun kini mereka tahu
bahwa hubungan mereka lebih dari sekadar rekan kerja. Ada rasa saling menghormati
dan saling mendukung yang mengikat mereka lebih kuat dari sebelumnya.
Takdir memang membawa mereka kembali bersama,
namun kali ini mereka lebih siap untuk menerima segala perubahan yang datang.
Bab 13: Kembali ke Awal, Tapi
Dengan Cara yang Baru
Waktu terus berjalan, dan meskipun Nara dan Awan semakin sibuk
dengan pekerjaan mereka, perasaan yang sempat terkubur mulai muncul lagi,
dengan cara yang tak terduga. Tentu saja, mereka sudah memiliki pasangan
masing-masing, dan seharusnya itu adalah garis batas yang tak bisa mereka
lewati. Namun, intensitas pertemuan mereka di kantor, kerja sama yang semakin
erat, serta kehadiran satu sama lain dalam setiap keputusan penting, mulai
mengaburkan garis tersebut.
Setiap pagi, ketika mereka bertemu di kantor, ada perasaan yang
sulit untuk disembunyikan. Mereka mulai saling mencari, bukan hanya untuk
pekerjaan, tetapi juga untuk berbicara lebih lama, untuk berbagi cerita tentang
hari-hari mereka, tentang apa yang mereka rasakan, dan bagaimana kehidupan
mereka berjalan. Mereka tak lagi hanya berkomunikasi secara profesional, tetapi
mulai membuka sedikit demi sedikit pintu yang dulunya sempat tertutup rapat.
Namun, ada satu hal yang berbeda. Meskipun perasaan itu kembali,
Nara dan Awan tahu bahwa mereka tidak bisa melupakan kenyataan bahwa mereka
sudah memiliki hidup masing-masing. Nara dengan suami yang penuh perhatian dan
Awan dengan istri yang selalu mendukung. Keduanya tahu betul bahwa mereka tak
bisa mengabaikan komitmen yang sudah mereka buat. Tetapi, apakah perasaan ini
benar-benar bisa disangkal?
Suatu hari, setelah rapat besar yang panjang, Awan mengajak Nara
untuk duduk sebentar di kafe kecil di bawah gedung. Suasana sore itu tenang,
hanya ada suara musik lembut dan percakapan yang jauh di meja lain. Nara,
meskipun tahu betul betapa rumitnya situasi ini, memutuskan untuk tetap duduk
dan berbicara dengan Awan. Mereka berdua sudah terlalu banyak melalui
perubahan, dan mungkin, saat ini, mereka hanya membutuhkan satu sama lain untuk
menyelesaikan sebuah babak yang belum selesai.
"Awan," kata Nara, suaranya lembut, namun penuh makna.
"Kita sudah lama nggak pernah benar-benar bicara, ya? Seperti kita
menghindari sesuatu yang tidak bisa kita ubah."
Awan mengangguk pelan. "Aku tahu, Ra. Kita memang sudah
memilih jalan masing-masing. Tapi entah kenapa, setiap kali aku di sini,
bekerja denganmu, rasanya seperti aku kembali ke tempat yang pernah aku
kenal."
Nara terdiam sejenak, menatap Awan dengan tatapan yang dalam.
Perasaan itu, yang dulunya terpendam, mulai mengalir lagi. Ada begitu banyak
kenangan yang datang, begitu banyak waktu yang mereka habiskan bersama.
Mungkin, mereka berdua tahu, mereka tidak bisa sepenuhnya menutup mata terhadap
kenyataan bahwa perasaan ini masih ada. Namun, Nara tahu, mereka harus
berhati-hati. Mereka sudah berbeda—dalam banyak hal.
"Aku nggak tahu, Awan," Nara akhirnya berkata.
"Kadang, aku merasa bahwa kita bisa terus melangkah maju tanpa menoleh
lagi ke belakang, tapi ada kalanya aku merasa ada sesuatu yang belum
selesai."
Awan merasakan getaran di dalam dirinya. "Aku merasa hal yang
sama, Ra. Tapi kita sudah punya hidup yang berjalan dengan baik. Aku nggak mau
merusak itu."
Namun, keheningan yang menyelimuti mereka berdua di kafe itu
menjadi begitu berat. Mereka berdua tahu bahwa meskipun hidup mereka sudah
berjalan dengan baik, ada bagian dari hati mereka yang belum sepenuhnya diberi
ruang untuk tumbuh. Tidak ada jawaban yang mudah. Hanya ada kenyataan bahwa
mereka berdua telah berubah. Namun, perasaan itu, meskipun berbeda dari dulu,
tetap ada—menunggu waktu yang tepat untuk muncul.
Beberapa minggu kemudian, pertemuan mereka di kantor semakin
intensif. Proyek demi proyek membuat mereka semakin sering bekerja bersama, dan
mereka semakin terikat, baik dalam pekerjaan maupun dalam percakapan kecil yang
lebih personal. Mereka mulai berbicara lebih banyak tentang kehidupan
mereka—tentang pasangan mereka, anak-anak mereka, tentang bagaimana dunia
mereka berubah sejak mereka pertama kali berpisah.
Namun, ada satu malam yang berubah segalanya.
Setelah jam kerja, Nara dan Awan memutuskan untuk berjalan-jalan
di taman dekat kantor. Mereka berbicara panjang lebar tentang berbagai hal,
mulai dari pekerjaan hingga kehidupan pribadi. Keheningan malam itu terasa
berbeda. Mereka saling berbicara dengan begitu terbuka, seolah-olah tidak ada
lagi hal yang harus disembunyikan.
"Ra," Awan akhirnya berkata, berhenti di tengah jalan
setapak yang sepi. "Aku nggak tahu bagaimana cara mengatakannya, tapi aku
merasa kita berdua sudah melalui begitu banyak hal, dan aku... aku nggak bisa
terus hidup hanya dengan penyesalan."
Nara menatapnya, hatinya berdebar. "Apa maksudmu, Awan?"
"Aku tahu ini salah," Awan melanjutkan, matanya menatap
dalam ke matanya. "Tapi aku nggak bisa menahan perasaan ini lebih lama
lagi. Aku masih mencintaimu, Nara. Aku nggak tahu apakah itu benar atau tidak,
tapi yang pasti, aku nggak bisa menghindarinya."
Nara terdiam. Semua yang pernah dia rasakan mulai membanjiri
pikirannya. Cinta, kehilangan, penyesalan—semua perasaan yang tak terucapkan
kembali hadir. Dia tahu bahwa apa yang Awan katakan adalah kebenaran yang sulit
dihadapi. Mereka berdua tahu bahwa mereka sudah memiliki hidup masing-masing,
namun di dalam hati mereka, masih ada ruang untuk satu sama lain.
"Awan," Nara berkata dengan suara yang hampir bergetar.
"Aku juga merasa hal yang sama. Tapi kita tidak bisa kembali ke masa lalu,
bukan? Kita sudah punya hidup kita sendiri."
Awan menggenggam tangannya, perlahan. "Aku tahu. Tapi apakah
kita bisa memberi kesempatan pada diri kita untuk mencoba? Aku nggak ingin
menyesal lagi karena tidak pernah mencoba."
Ada keheningan panjang di antara mereka. Nara merasakan berat di
dadanya, namun ada juga perasaan lega. Mereka tahu bahwa keputusan ini tidak
mudah, dan akan banyak hal yang harus mereka pertimbangkan. Tetapi di sinilah
mereka, berdiri di persimpangan jalan, memilih apakah mereka akan melanjutkan
atau tidak.
Awan menatap Nara dengan harapan yang tak terucapkan. "Aku
hanya ingin kita mencoba, Nara. Hanya mencoba."
Setelah beberapa lama terdiam, Nara akhirnya mengangguk.
"Kita akan coba, Awan. Tapi kita harus berhati-hati. Kita harus memastikan
bahwa kita tidak mengulangi kesalahan yang sama."
Malam itu, di bawah langit yang berbintang, Nara dan Awan tahu
bahwa mereka sedang memulai babak baru dalam hidup mereka. Mungkin bukan untuk
kembali ke masa lalu, tetapi untuk mencari arti baru dari cinta yang mereka
pikir sudah hilang. Tetapi kali ini, mereka akan melakukannya dengan cara yang
lebih bijaksana, dengan hati yang lebih terbuka, dan dengan keputusan yang
lebih matang.
Bab 14: Rasa yang Tak Pernah Selesai
Hari-hari di kantor itu mulai terasa aneh bagi
Nara. Bukan karena pekerjaannya yang sulit, atau rekan-rekan kerja yang tidak
ramah. Tapi karena satu nama yang kembali hadir dalam hidupnya—Awan. Setiap
pertemuan rapat, setiap tidak sengaja saling menyapa di pantry, setiap kali
suara itu terdengar memanggil nama “Nara” dari ujung lorong—semuanya perlahan
menggoyahkan benteng yang telah ia bangun selama bertahun-tahun.
Awan pun tak bisa menyangkal. Kehadiran Nara
di gedung yang sama, hanya beda lantai, seolah jadi pengingat hidup bahwa
perasaan lama itu belum benar-benar hilang. Mereka saling menjaga jarak, tapi
dunia tampaknya terlalu kecil untuk dua hati yang masih saling mengenali.
Mulanya mereka hanya bertukar kabar sepintas.
Lalu, makan siang bersama karena rapat lintas divisi. Setelahnya, mulai saling
bercerita tentang anak-anak, pasangan, dan rutinitas rumah yang kadang terlalu
sunyi. Dari situ, semuanya perlahan berubah.
Kedekatan itu tumbuh bukan dalam letupan, tapi
dalam keheningan yang lama. Dalam detik-detik menunggu lift. Dalam senyap di
parkiran sepulang lembur. Dalam sejuknya pagi sebelum kantor benar-benar sibuk.
Sampai akhirnya, satu momen di luar kota—dinas
bersama dalam proyek besar—menggugurkan batas yang selama ini mereka tegakkan.
Malam itu, setelah seharian rapat dan bertemu klien, mereka duduk di balkon
hotel, hanya berdua, ditemani kopi yang mulai dingin.
"Kenapa ya... rasanya semua ini seperti
dulu?" Nara bertanya, suaranya nyaris berbisik.
Awan menatap langit malam yang gelap.
"Karena mungkin... kita nggak pernah benar-benar selesai."
Hening.
Dan dalam keheningan itu, mereka sadar: yang
mereka jalani selama ini bukan sekadar nostalgia. Tapi sesuatu yang nyata.
Sesuatu yang masih hidup, meskipun selama ini disimpan rapi di balik nama
“kenangan”.
Hubungan mereka berubah. Perlahan tapi pasti.
Makin sering bertukar pesan. Makin sering mencari-cari alasan untuk bertemu.
Dan makin sulit berpura-pura bahwa semua baik-baik saja.
Namun di balik itu semua, masing-masing tahu:
ada banyak yang dipertaruhkan. Ada banyak hati yang bisa terluka. Ada rumah
yang bisa runtuh karena satu langkah yang salah.
Dan itulah yang membuat semuanya semakin
rumit—karena rasa itu, seindah apa pun, tetap tak bisa disebut benar.
Bab 15: Antara Yang Pernah dan Yang Ada
Tidak ada yang mudah ketika hati mulai
menginginkan sesuatu yang tak seharusnya lagi dimiliki. Sejak malam itu,
segalanya berubah. Bukan hanya jarak yang kian dekat, tapi juga hati yang
semakin sulit dikendalikan.
Nara bangun lebih awal pagi itu. Di kamar
hotel yang sama, dengan tirai yang setengah terbuka, ia menatap langit kelabu
yang menggantung di luar jendela. Hatinya berat. Ada bagian dari dirinya yang
ingin waktu membeku semalam. Tapi ada bagian lain yang meronta, menyadari bahwa
semua ini tak seharusnya terjadi.
Ia memalingkan wajah ke arah Awan yang masih
tertidur lelap. Lelaki yang dulu ia cintai diam-diam, yang pernah ia lepaskan
dengan luka, kini ada di sisinya lagi—dalam cara yang bahkan lebih
membingungkan daripada sebelumnya.
“Ini salah,” gumamnya pelan, lebih pada
dirinya sendiri.
Tapi perasaan bukanlah sesuatu yang bisa
diatur sesederhana itu. Mereka mencoba bersikap biasa di kantor—bertegur sapa
dengan formalitas, menahan lirikan mata yang ingin lebih lama bertahan. Tapi
setiap interaksi hanya menambah lapisan kegelisahan di hati mereka.
Awan pun merasakan hal yang sama. Dalam
keheningan malam-malamnya sendiri, ia menatap wajah istrinya yang tertidur,
bertanya-tanya mengapa hatinya justru bergema oleh kenangan bersama Nara. Ia
mencintai keluarganya, itu tidak diragukan. Tapi mengapa perasaannya seperti
diseret kembali ke masa lalu yang belum usai?
Pada akhirnya, mereka mulai menghindar.
Mencari jeda. Tapi takdir seperti selalu tahu cara mempertemukan mereka
lagi—lewat proyek baru, rapat dadakan, atau sekadar bertemu di lift tanpa
sengaja.
Dan setiap pertemuan itu, terasa seperti luka
yang disayat ulang, tapi juga seperti rumah yang lama ditinggalkan dan kini
diketuk kembali.
Mereka tahu, jika terus seperti ini, akan ada
yang terluka. Akan ada yang hancur. Tapi saat cinta bertabrakan dengan
kenyataan, tak selalu ada jalan pulang yang tak berdarah.
Semakin mereka mencoba berpura-pura, semakin
jelas dunia tidak benar-benar buta. Rekan-rekan kerja mulai berbisik. Sekilas
pandang yang terlalu sering. Tawa yang terdengar terlalu akrab. Waktu lembur
yang selalu berakhir bersamaan. Tak semua orang mempercayai kebetulan.
Nara menyadari itu pertama kali ketika salah
satu teman sekantornya—Ina, dari divisi HR—menatapnya lama setelah rapat.
Tatapan yang tidak menghakimi, tapi cukup tajam untuk menusuk.
“Kamu baik-baik aja, Nar?” tanya Ina, seperti
biasa, tapi dengan nada yang lebih hati-hati.
Nara tersenyum. “Baik, kok. Kenapa?”
Ina hanya mengangkat bahu, lalu beralih ke
dokumennya. Tapi Nara tahu, pertanyaan itu bukan tanpa alasan.
Dan malam itu, saat ia pulang lebih lambat
dari biasanya, suaminya sudah duduk di ruang tamu. Ponselnya tergeletak di
meja, layar masih menyala—sebuah foto yang dikirimkan entah oleh siapa: dirinya
dan Awan, berdiri terlalu dekat di lobi hotel tempat mereka sering menginap
saat dinas.
“Aku nemu ini di grup alumni kampus,” ucap
suaminya pelan, matanya lurus ke depan. “Kamu mau cerita sesuatu?”
Nara terdiam. Lidahnya kelu. Bukan karena ia
tidak tahu harus berkata apa, tapi karena ia tahu, tak ada jawaban yang akan
membuat segalanya tampak benar.
Sementara itu, Awan juga menghadapi badai di
rumah. Istrinya—yang selama ini begitu percaya padanya—menjadi pendiam. Ia
mulai mengecek ponsel Awan diam-diam. Menggali sisa-sisa tanda, mencium aroma
perubahan yang tak bisa dijelaskan. Awan mencoba meyakinkan, berusaha tetap
jadi suami yang bertanggung jawab. Tapi getaran hatinya sudah tidak bisa
dibohongi.
Hubungan mereka yang dulu dibalut nostalgia,
kini seperti dua api yang saling membakar. Indah tapi menyakitkan. Dalam tapi
salah arah.
Mereka mulai mempertanyakan: apakah ini cinta
yang seharusnya diperjuangkan? Ataukah hanya pelarian dari rutinitas dan
kehampaan yang diam-diam menggerogoti hidup mereka?
Dan untuk pertama kalinya sejak pertemuan
kembali itu, Nara menangis dalam pelukan Awan—bukan karena bahagia, tapi karena
takut kehilangan segalanya.
Bab 16: Jalan yang Harus Dipilih
Hidup selalu menuntut harga untuk kebahagiaan
yang dicuri diam-diam. Dan kini, waktunya membayar datang lebih cepat dari yang
mereka perkirakan.
Awan menatap layar ponselnya lama. Ada sepuluh
panggilan tak terjawab dari istrinya. Belum termasuk pesan-pesan yang tak
sempat ia balas. Di ruangannya yang senyap, hanya ada desahan napasnya
sendiri—berat, bingung, dan terjebak antara dua dunia yang sama-sama ia cintai.
Sementara itu, Nara duduk di kursi rotan dekat
jendela apartemennya. Malam turun perlahan, menyelimuti kota dengan gelap yang
terasa lebih dingin dari biasanya. Ia memutar ulang pesan suara dari
Ina—temannya yang kini lebih seperti cermin nurani.
"Kamu perempuan pintar, Nara. Tapi
kebahagiaan yang datang dari luka orang lain, akan terus menggigit di
belakang."
Kata-kata itu bukan ancaman, bukan juga nasihat.
Hanya kebenaran yang tak bisa lagi diabaikan.
Pagi harinya, mereka bertemu seperti biasa di
pantry kantor. Tapi tak ada senyum, tak ada sapaan lembut. Hanya tatapan yang
lama dan sarat makna. Tatapan dua orang yang tahu, mereka sedang berdiri di
ujung yang sama—tapi jalan di depan tak lagi bercabang, melainkan menjurus ke
arah yang tak bisa dilewati berdua.
“Aku mau pindah,” ucap Nara pelan, menunduk.
“Ke cabang Makassar. Sudah bicara sama HR kemarin.”
Awan menatapnya lekat. “Kenapa nggak bilang
dulu ke aku?”
“Karena ini bukan soal kamu atau aku. Ini
soal... menyelamatkan yang masih bisa diselamatkan.”
Hening. Hanya suara mesin kopi yang mendesis
pelan, seolah ikut menyadari betapa beratnya percakapan itu.
“Aku nggak siap kehilangan kamu lagi, Nar,”
Awan akhirnya berkata. Suaranya hampir bergetar. “Tapi aku juga tahu,
mempertahankan begini... itu bukan cinta. Itu ego.”
Mereka diam. Sama-sama tahu, ini bukan tentang
siapa yang lebih mencintai. Tapi siapa yang lebih kuat untuk melepaskan.
Hari itu, mereka berpisah dengan pelukan yang
lama. Bukan pelukan selamat tinggal, tapi pelukan “terima kasih”—karena pernah
menjadi rumah satu sama lain, walau sebentar, walau salah waktu.
Dan ketika pintu lift tertutup di antara
mereka, keduanya tahu: cinta sejati tidak selalu harus memiliki. Kadang, cinta
sejati adalah ketika seseorang memilih pergi... agar yang lain bisa tetap utuh.
Bab 17: Merawat Luka yang Tak Terlihat
Makassar menyambut Nara dengan langit yang
berbeda. Lebih biru, lebih sunyi. Ia belajar menyukai kesendirian yang tak lagi
ia tolak. Setiap pagi ia berjalan kaki ke kantor, menyeberangi jalan yang tak
ramai, menatap laut yang jauh di ujung pandangan. Setiap sore, ia pulang ke
apartemen kecil dengan cat dinding putih dan meja kayu yang ia pilih sendiri.
Di sudut meja itu, ada bingkai kosong. Dulu
untuk foto, sekarang hanya jadi pengingat: bahwa ada ruang di hidupnya yang
memang tak harus diisi lagi.
Ia tidak membenci Awan. Tidak juga marah. Yang
tertinggal hanyalah rasa yang tak bisa ia sebut—antara kehilangan dan kelegaan,
antara rindu dan rasa bersalah.
Sementara di kota lain, Awan menjalani
hari-harinya dalam hening yang dipaksakan. Rumahnya tetap berdiri kokoh, tapi
kehangatan yang dulu ada di dalamnya kini terasa seperti bayangan masa lalu.
Ia mencoba menjadi ayah yang lebih hadir,
lebih lembut. Tapi setiap kali ia duduk sendiri di teras belakang rumah,
bayangan Nara datang lagi. Bukan untuk menyakiti, tapi hanya menatap, seolah
bertanya: “Kamu baik-baik saja, Awan?”
Ia tahu jawaban itu tak pernah benar-benar
iya.
Luka mereka tak berdarah, tapi dalam. Dan
seperti luka dalam, ia tak mudah sembuh—hanya bisa dirawat dalam diam. Lewat
lagu-lagu yang mendadak membekukan napas, lewat wangi kopi yang membawa
ingatan, lewat nama jalan yang terdengar akrab tapi perih.
Mereka tak saling hubungi lagi. Tak saling
cari. Tapi ada semacam kesepakatan tanpa suara: bahwa cinta bisa tinggal, meski
orangnya harus pergi.
Dan hidup terus berjalan.
Dalam diam, mereka belajar satu hal
penting—bahwa tidak semua yang indah harus dimiliki selamanya. Ada yang cukup
disyukuri karena pernah nyata, walau hanya sebentar.
Bab 18: Segala Cara untuk Dekat Lagi
Awan tahu betul, cinta yang ia miliki untuk
Nara tak bisa sembuh hanya dengan waktu. Hari-hari yang ia jalani tanpa
kehadiran Nara terasa pincang, seolah hidupnya kehilangan pusat gravitasi. Ia
pernah mencoba berdamai, pernah mencoba menjauh, tapi ternyata yang paling
menyakitkan justru adalah membiarkan semuanya tetap begini—tak tersentuh, tak
terselesaikan.
Maka ia mulai menyusun rencana. Tidak frontal.
Tidak dengan kata-kata besar. Ia tahu Nara bukan tipe yang bisa dibujuk dengan
janji, apalagi dengan nostalgia.
Ia mulai dari jalur yang ia kenal paling baik:
pekerjaan.
Awan masih memiliki jaringan luas di grup
perusahaan tempat mereka dulu bekerja. Ia mulai melobi satu per satu kolega
yang masih dekat, mencari celah dan peluang agar Nara bisa kembali ke kantor
pusat—setidaknya ke divisi yang masih punya keterkaitan dengan miliknya.
“Aku butuh orang yang paham lapangan. Yang
bisa cepat adaptasi dan ngerti ritme kerja kita,” ucapnya dalam rapat informal
bersama pimpinan regional. “Dan aku tahu orang itu siapa.”
Namanya tidak langsung disebut. Tapi semua
yang mendengar bisa menangkap maksudnya.
Sementara itu, Nara hidup tenang di cabang
Makassar. Ia tidak tahu bahwa CV-nya tiba-tiba muncul di atas meja HR kantor
pusat dengan rekomendasi langsung dari divisi strategis. Ia bahkan kaget saat
menerima panggilan dari manajemen.
“Apakah Anda bersedia kembali ke pusat untuk
proyek jangka panjang?”
Ia terdiam. Sempat bertanya-tanya, ini
kebetulan... atau sengaja?
Setelah beberapa hari berpikir, ia menuliskan
jawaban yang singkat:
“Saya bersedia, selama proyeknya sesuai dengan
kapabilitas saya. Dan selama profesionalisme tetap dijaga.”
Jawaban itu sampai ke tangan Awan. Ia
membacanya dengan campur aduk—antara lega dan deg-degan. Ia tahu, ini bukan
kemenangan. Ini adalah kesempatan kedua yang harus ia jaga dengan hati-hati.
Kali ini, Awan berjanji dalam hati: “Aku
nggak akan menyia-nyiakan hadirmu. Tapi aku juga harus belajar mencintaimu
tanpa menghancurkan hidupmu lagi.”
Bab 19: Dalam Ruang yang Sama
Ruang rapat itu dingin, putih, formal. Meja
kaca panjang membentang di tengah ruangan, dihiasi beberapa laptop, catatan
proyek, dan kopi yang sebagian besar sudah dingin. Tak ada musik, hanya bunyi
lembaran kertas dan suara klik mouse sesekali.
Lalu pintu terbuka.
Nara melangkah masuk dengan map di tangan dan
ekspresi tenang yang sudah ia latih semalaman. Pandangannya langsung bertemu
dengan satu sosok di ujung meja—Awan. Duduk tegak, mengenakan kemeja biru muda
yang baru disetrika, dan ekspresi yang nyaris tak terbaca.
Untuk beberapa detik, ruangan seperti membeku.
Ada jeda hening yang mungkin tak disadari orang lain, tapi bagi mereka berdua,
itu terasa seperti waktu berhenti.
“Silakan duduk, Mbak Nara,” ujar supervisor
divisi pemasaran, memecah suasana.
Nara mengangguk kecil. Ia duduk dua kursi dari
Awan, cukup dekat untuk mencium aroma parfumnya yang masih sama, cukup jauh
untuk tak sengaja bersentuhan.
Rapat dimulai. Laporan demi laporan dibahas.
Slide demi slide berganti. Tapi keduanya nyaris tak saling menatap. Hanya
sesekali, saat komentar dilempar ke udara dan mereka merespons di waktu yang
sama, tatapan mereka bersilang. Cepat. Tapi dalam.
Satu kali, saat Awan menjelaskan strategi
integrasi dua divisi, ia menyebut, “Kita butuh seseorang yang ngerti dua
dunia—lapangan dan pusat. Dan saya rasa, Mbak Nara bisa isi ruang itu.”
Suara Awan stabil. Formal. Tapi matanya
sedikit lebih lama menatap ke arahnya dibanding ke peserta rapat lain.
Usai rapat, saat semua mulai membereskan map
dan laptop, Awan sengaja berjalan lebih lambat.
“Nara…” katanya pelan, nyaris berbisik.
Nara menoleh. Pandangan mereka akhirnya
benar-benar bertemu, tanpa jeda, tanpa pelarian.
“Aku tahu ini bukan kebetulan,” ucap Nara
singkat.
Awan tidak menyangkal. Ia hanya tersenyum
kecil, lalu berkata, “Tapi aku pastikan… ini juga bukan jebakan.”
Nara tertawa tipis, seperti melepas tegang
yang tak bisa ia sembunyikan.
“Kalau begitu, kita lihat saja… siapa yang
lebih tahan menjaga batas,” balasnya sambil melangkah pergi lebih dulu,
meninggalkan Awan dengan degup yang tak sempat ia sembunyikan.
Dan sejak hari itu, mereka kembali bekerja
dalam orbit yang sama. Dikelilingi formalitas, dibatasi tanggung jawab, tapi
selalu ada ruang-ruang kecil yang penuh isyarat—tatapan, senyum, diam, dan
jeda-jeda yang terlalu dalam untuk disebut biasa.
Bab 20: Antara Ruang dan Rasa
Semenjak rapat itu, frekuensi pertemuan mereka
meningkat. Secara profesional, tentu saja. Proyek integrasi dua divisi memaksa
mereka duduk dalam ruangan yang sama, meninjau dokumen yang sama, dan
sesekali—secara tak sengaja—menyentuh layar laptop yang sama.
Namun, bukan tugas yang membuat Nara sulit
tidur. Bukan tanggung jawab yang membuat Awan berlama-lama menatap layar yang
sudah tak berubah sejak lima belas menit lalu.
Ada yang tumbuh lagi—pelan, tapi pasti. Bukan
rasa yang meledak-ledak seperti dulu, melainkan sesuatu yang lebih dewasa.
Lebih sunyi. Tapi juga lebih berbahaya.
Suatu sore, setelah diskusi panjang yang
melelahkan, mereka berdua tertinggal di ruang kerja. Rekan lain sudah pulang,
lampu mulai dimatikan satu per satu, dan hanya ada senja oranye yang menyusup
lewat jendela kaca besar.
Nara berdiri, menyimpan berkas ke dalam map.
Awan masih duduk, memutar pulpen di antara jari-jarinya.
“Besok kita lanjut bahas timeline ya,” ujar
Nara singkat, tapi sebelum ia benar-benar berbalik, suara Awan menahan
langkahnya.
“Nara…”
Nara menoleh. Tak ada senyum di wajahnya,
hanya tatapan lelah yang mencoba kuat.
“Kenapa kita bisa sampai di titik ini lagi?”
Awan bertanya pelan. Nyaris seperti gumaman.
Nara menatapnya lama, lalu menggeleng.
“Mungkin karena kita nggak pernah benar-benar selesai.”
Hening.
Awan berdiri. Langkahnya pelan, dan ia
berhenti di jarak yang cukup dekat untuk membuat jantung Nara berdebar lebih
kencang. Ia tidak menyentuhnya. Tidak mencoba. Tapi tatapan itu… cukup untuk
mengguncang tembok yang susah payah Nara bangun.
“Kamu bahagia sekarang?” tanya Awan, pelan dan
berat.
Nara menghela napas panjang. “Kebahagiaan itu
relatif, Wan. Kadang, aku pikir aku sudah cukup. Tapi kadang, aku juga rindu…
rindu jadi diriku yang dulu—saat segalanya masih jujur.”
Awan menunduk, lalu tersenyum tipis. “Aku
masih nunggu, Nar. Bahkan ketika aku nggak tahu apa yang sebenarnya aku
tunggu.”
Senja di luar perlahan memudar jadi ungu. Dan
dalam keheningan ruang kantor yang semakin sepi, dua hati kembali diuji. Tidak
dengan pelukan, tidak dengan ciuman, tapi dengan godaan yang paling
mematikan—hasrat untuk kembali, tapi tak tahu ke mana.
Bab 21: Yang Tak Bisa Dijelaskan
Setiap pagi, Nara menatap wajahnya sendiri di
cermin lebih lama dari biasanya. Mencari sesuatu—mungkin ketegasan, mungkin
keberanian. Tapi yang ia temukan hanya bayangan perempuan yang makin tak yakin
pada batas yang pernah ia tetapkan sendiri.
Di kantor, Awan tetap seperti biasa.
Profesional. Tenang. Tapi di sela-sela kesibukan itu, ada hal-hal kecil yang
membuat segalanya tak lagi biasa: cara mereka saling menghindari pandang, jeda
napas yang lebih panjang saat berdekatan, atau pesan singkat yang terlalu
netral tapi terasa terlalu pribadi.
Hari-hari berlalu seperti berjalan di atas
tali tipis. Mereka tak pernah membicarakan apa pun secara langsung, namun
diam-diam, rasa itu tumbuh seperti akar di bawah tanah—diam, dalam, dan sulit
dicabut.
Suatu malam, Nara duduk sendirian di balkon
apartemennya. Angin membawa suara kota yang lelah, dan di pangkuannya, segelas
teh yang sudah dingin.
Ia mengingat semua yang sudah dilalui.
Anak-anaknya. Suaminya yang baik, yang tak pernah mencurigai apa-apa. Hidup
yang sudah dibangun susah payah. Tapi mengapa pikirannya tetap kembali ke satu
sosok?
Sementara itu, Awan menatap layar ponselnya.
Ada foto anak-anaknya di wallpaper. Tertawa, berlarian, polos tanpa tahu bahwa
ayah mereka menyimpan sesuatu yang tak semestinya. Ia menyesap kopinya dan
bertanya dalam hati: sampai kapan ia bisa berpura-pura?
Keesokan harinya, mereka duduk bersebelahan di
ruang rapat. Tak satu pun yang berani menoleh, apalagi bicara soal rasa. Tapi
di sela-sela presentasi dan suara keyboard, Nara mencoret sesuatu kecil di
notes-nya:
"Kalau semua ini salah, kenapa rasanya
seperti pulang?"
Dan saat Awan melirik, ia tak bisa menahan
senyum kecil—pahit, rumit, tapi nyata.
Bab 22: Dalam Bisik yang Tak Terdengar
Kalau semua ini salah, kenapa terasa benar?
Nara menatap kalimat kecil itu di notes-nya,
sejenak lupa dunia di sekitarnya. Rapat sudah selesai, peserta satu per satu
meninggalkan ruangan. Tapi Awan masih di sana. Diam. Duduk tak jauh darinya.
Tak ada yang bicara, tapi ada sesuatu di udara yang nyaris terdengar seperti
detak jantung mereka sendiri.
“Nara,” Awan akhirnya bersuara, pelan, tapi
dalam. Seolah memanggil bukan hanya nama, tapi juga semua kenangan yang pernah
mereka kubur dalam-dalam.
Ia tak menjawab. Hanya memandangnya, penuh
pertahanan yang rapuh.
“Aku nggak tahu caranya berhenti,” lanjut
Awan. “Berhenti merasa, berhenti berharap, berhenti mengulang kamu di kepalaku
tiap malam.”
Nara menarik napas panjang. Matanya mulai berkabut.
“Kita punya keluarga, Wan. Anak-anak. Rumah. Dunia yang kita jaga dengan susah
payah.”
“Aku tahu.” Awan menunduk, suara serak. “Tapi
aku juga tahu... aku nggak pernah setenang ini di dekat siapa pun selain kamu.”
Hening sesaat. Dunia seolah menahan napas.
Lalu Nara berdiri, mendekat perlahan. Tak ada pelukan. Tak ada sentuhan. Hanya
jarak yang sangat dekat, dan suara yang nyaris seperti bisikan.
“Aku juga nggak pernah benar-benar bisa jauh
dari kamu.”
Malam itu, mereka bertemu di luar kantor. Tempat
netral, tanpa simbol rumah, tanpa panggilan anak-anak, tanpa peran sebagai
istri dan suami dari orang lain.
Mereka duduk lama. Bicara lama. Tentang semua
yang telah mereka lewati, semua luka yang mereka diamkan, dan semua rasa yang
masih tersisa, bahkan setelah waktu dan jarak mencoba mengikisnya.
“Aku tahu ini salah,” kata Nara, menatap
cahaya kota dari balik jendela kafe. “Tapi aku juga tahu... kita berhak untuk
merasa.”
Dan dari situ, mereka kembali membiarkan diri
hanyut. Bukan dalam keputusan, bukan dalam kepastian, tapi dalam perasaan yang
terlalu lama disangkal. Mereka memilih, meski tahu jalan itu bukan yang mudah.
Mereka ingin bersama—walau terlarang.
Bab 23: Ketika Langit Mendadak Gelap
Hari itu hujan turun tanpa permisi. Tidak
deras, tapi cukup untuk membuat langit terlihat seperti sedang menangis. Nara
berdiri di ambang pintu rumahnya, diam, dengan tangan gemetar memegang ponsel
yang sejak pagi berdering berkali-kali.
Ada kabar yang tak pernah ia bayangkan datang.
Suaminya—laki-laki yang selama ini menjadi ayah dari kedua anaknya, penopang
rumah mereka—mengalami kecelakaan lalu lintas dalam perjalanan dinas. Dan
nyawanya tak bisa diselamatkan.
Dunia Nara runtuh dalam sekejap. Rasanya
seperti ada bagian dari dirinya yang ikut hancur bersama dentuman mobil itu.
Tangis tak langsung tumpah, tapi dadanya penuh. Penuh sesak, penuh kekosongan
yang mendadak datang begitu saja.
Selama berhari-hari, rumahnya dipenuhi ucapan
duka. Doa mengalir dari keluarga dan teman-teman. Anak-anaknya bingung,
menangis tanpa benar-benar mengerti. Dan Nara, di antara semua pelukan itu,
berdiri seperti bayangan dirinya sendiri.
Awan tahu. Ia tak hadir di rumah duka, tak
berani. Tapi dari kejauhan, ia mengikuti setiap perkembangan, mengirim bunga
tanpa nama, dan hanya mampu berdoa diam-diam.
Ia ingin datang. Ingin memeluk. Tapi ia juga
tahu—belum waktunya.
Beberapa minggu berlalu. Nara mulai kembali ke
kantor. Wajahnya tenang, langkahnya masih tegas, tapi matanya bercerita lain.
Kehilangan itu belum pudar, dan mungkin tidak akan pernah benar-benar pergi.
Suatu sore, saat hampir semua karyawan telah
pulang, Nara duduk sendirian di ruang pantry. Awan, yang tak sengaja lewat,
melihatnya dari balik kaca.
Ia ragu, tapi kemudian masuk.
“Nara…”
Wanita itu menoleh. Lelah. Tapi tak menghindar.
Malah menatap Awan seolah semua pertahanannya runtuh begitu saja.
“Aku capek, Wan…” suaranya bergetar. “Capek
jadi kuat terus.”
Awan duduk di seberangnya, tak bicara. Hanya
memegang tangan Nara di atas meja.
Kali ini, ia tidak datang sebagai seseorang
dari masa lalu, atau sebagai pria yang diam-diam mencintainya. Ia datang
sebagai seseorang yang akan diam di sisinya—bahkan jika dunia berkata itu
salah.
Dan di situlah mereka, dua hati yang sama-sama
luka, kembali dipertemukan oleh kehilangan. Tapi entah untuk diperbaiki… atau
diuji lebih dalam lagi.
Bab 24: Rumah yang Tak Lagi Sama
Sudah tiga bulan sejak hari itu. Hari di mana
langit seolah menutup lembaran hidup lama Nara. Kehidupan berjalan, seperti
biasa, walau rasanya tak ada yang benar-benar biasa lagi.
Awan perlahan mulai mendekat lagi. Bukan
sebagai seseorang dari masa lalu, tapi sebagai teman yang hadir di waktu paling
sunyi. Mereka tak langsung bicara banyak, tapi keberadaan Awan memberi semacam
kelegaan. Ada bahu yang bisa diandalkan, bahkan dalam diam.
Di rumah, anak-anak Nara masih belajar
mengerti. Raka, yang sulung, sering bertanya mengapa Ayah tidak pulang-pulang.
Sedangkan Rani, yang lebih kecil, mulai terbiasa mencari ibunya di malam hari
hanya untuk memastikan ia masih di sana.
Perubahan terasa paling kuat di ruang makan.
Dulu, suara tawa dan cerita mengisi meja. Kini, lebih banyak keheningan. Tapi
Nara mencoba. Ia mulai membuat jadwal bermain, mulai mengajak anak-anak
berbicara tentang perasaan, tentang kehilangan, tentang kenangan.
Suatu sore, Awan mengantar Nara pulang setelah
lembur. Raka melihat mereka dari jendela. Wajahnya bingung, matanya menatap
lama sosok pria itu yang turun dari mobil ibunya.
“Bu… itu siapa?” tanyanya kemudian.
Nara terdiam sejenak. “Teman Ibu di kantor.”
“Dia bukan kayak teman biasa,” ucap Raka
pelan, lebih pada dirinya sendiri.
Malam itu, Nara duduk di ranjang anak-anak. Ia
menjelaskan perlahan, tanpa menutupi kenyataan. Bahwa sekarang, hidup mereka
sedang berubah. Bahwa Ayah tidak akan kembali, tapi cinta itu masih ada—dalam
kenangan, dalam cerita, dalam mereka bertiga yang tersisa.
Dan bahwa tak semua kehilangan bisa
digantikan, tapi kadang… hati tetap butuh tempat untuk pulang.
Anak-anak masih belum sepenuhnya paham. Tapi
mereka tahu satu hal—mereka masih punya Ibu. Dan mungkin, suatu hari nanti,
mereka akan mengerti bahwa hidup tak selalu hitam-putih. Kadang, ia datang
dalam nuansa abu-abu yang pelan-pelan bisa diterima.
Bab 25: Sepasang Sepi yang Tak Lagi Sama
Pagi itu dimulai seperti biasa—dengan kopi
yang masih mengepul dan notifikasi email yang terus berdenting. Awan baru saja
hendak berangkat ke kantor ketika panggilan telepon dari rumah mertuanya
membuat jantungnya tercekat.
Suara panik di ujung sana. Istrinya. Serangan
jantung. Dilarikan ke rumah sakit. Terlambat.
Dunia Awan seolah diam beberapa saat. Semua
kata dalam kepalanya berhenti. Ia tak sempat berpamitan. Tak sempat meminta
maaf. Tak sempat mengatakan apa pun yang penting.
Pemakaman berlangsung dalam kesedihan yang
dalam namun tenang. Anak-anaknya menangis, dan Awan mencoba sekuat tenaga
menjadi batu karang untuk mereka. Tapi bahkan batu pun bisa pecah diam-diam di
bawah permukaan.
Sepulang dari pemakaman, Awan duduk sendiri di
ruang tamu. Rumah itu kini terasa lebih luas, lebih kosong. Ia menatap foto
pernikahannya yang tergantung di dinding. Terasa seperti melihat orang
lain—versi dirinya yang sudah lama tak ia kenali.
Malam harinya, ia membuka pesan terakhir dari
istrinya. Sebuah catatan suara singkat.
"Jangan kerja terlalu larut malam terus,
ya. Anak-anak nanyain kamu terus. Jaga kesehatan, Wan… kamu selalu keras kepala
kalau soal itu."
Dan tangis Awan akhirnya pecah, tanpa bisa
dibendung.
Berita itu cepat sampai ke telinga Nara. Ia
tak langsung menghubungi. Tapi hatinya bergetar. Bukan karena berharap, bukan
karena lega. Tapi karena luka mereka kini seimbang.
Sepasang jiwa yang kehilangan, sama-sama
mencari arah baru.
Hari-hari berikutnya, mereka kembali menjalani
hidup seperti dua orbit yang saling mendekat. Tapi kini tanpa belenggu masa
lalu yang sama. Tanpa pasangan. Tanpa ikatan yang menghalangi.
Namun di balik itu semua, ada satu pertanyaan
besar yang masih menggantung di langit takdir mereka:
Setelah semua kehilangan ini, apakah mereka
berani mulai dari awal?
Bab 26: Saat Dua Luka Saling Menemukan
Namun di balik bebasnya jalan yang kini
terbentang, ada sunyi yang tak bisa ditawar. Karena kehilangan bukan hanya
mengosongkan sisi ranjang—ia juga menciptakan ruang dalam hati yang tak mudah
diisi kembali.
Awan dan Nara mulai kembali bertegur sapa,
awalnya dalam nada formal, penuh pertimbangan. Tapi seiring waktu, percakapan
mereka melembut. Dari sekadar koordinasi pekerjaan, menjadi tanya kabar
anak-anak. Dari “apakah sudah makan siang” menjadi “bagaimana tidurmu tadi
malam.”
Tak ada niat yang diumbar. Tak ada janji yang
dideklarasikan. Namun kedekatan itu tumbuh kembali seperti rumput di sela-sela
batu. Diam-diam, tapi hidup.
Suatu sore, mereka duduk berdua di kantin
kantor, jendela besar menghadap langit senja yang perlahan menghangus. Hanya
mereka berdua. Canggungnya sudah menipis. Yang tersisa hanya kejujuran yang
lama tertahan.
“Aku kadang merasa bersalah karena bahagiaku
datang dari kehilangan,” kata Nara pelan.
Awan menatapnya lama. “Aku juga. Tapi kadang...
kehilangan justru mengingatkan kita bahwa hidup ini sebentar. Terlalu sebentar
untuk terus menyangkal perasaan.”
Hening. Tapi bukan hening yang kaku. Lebih
seperti jeda yang memberi napas.
“Apa kamu pernah berpikir untuk mulai dari
awal lagi?” tanya Awan.
“Sering,” jawab Nara. “Tapi selalu aku tahan,
karena aku takut... jika yang kita bangun hanya karena kita sama-sama hancur.”
Awan mengangguk. “Kalau kita bangun karena
saling ingin pulih, apa itu salah?”
Kata-kata itu menggantung di udara, seperti lampu
jalan yang menyala perlahan saat senja berubah menjadi malam. Tidak ada
pelukan, tidak ada genggaman tangan malam itu. Hanya dua hati yang mulai berani
melihat luka mereka, dan bertanya—bisakah dua jiwa yang remuk belajar mencinta
lagi, dengan cara yang lebih tenang, lebih tulus, lebih baru?
Dan di titik itu, mereka tahu, mungkin
perjalanan belum usai. Tapi kali ini, mereka tidak lagi berjalan saling
menjauh.
Mereka berjalan berdampingan, meski pelan.
Bab 27: Dua Hati yang Belajar Pulang
Malam itu mereka pulang ke rumah
masing-masing—rumah yang kini sepi, tapi tetap menyala lampunya. Di dalam hati
mereka, masih ada ragu, masih ada bayangan masa lalu yang belum sepenuhnya
reda. Tapi juga ada sesuatu yang baru tumbuh—keyakinan kecil, seperti tunas
pertama setelah musim dingin panjang.
Hari-hari berlalu, dan mereka semakin sering
berbincang. Tidak lagi selalu di kantor. Kadang Awan mampir ke rumah Nara untuk
mengantar buku yang katanya “kamu pasti suka ini,” atau sekadar membawakan
makanan yang “kebanyakan aku masak, kamu bantu habisin, ya.”
Anak-anak mereka mulai mengenal satu sama
lain. Awalnya canggung, lalu menjadi biasa. Sesekali bermain bersama saat akhir
pekan. Tak pernah dipaksa akrab, tapi perlahan saling membuka.
Suatu hari, anak bungsu Awan bertanya, polos
dan tanpa beban, “Ayah, Tante Nara itu teman ayah waktu kecil ya? Soalnya Ayah
kelihatan senang banget kalau bareng dia.”
Awan terdiam sejenak, lalu tersenyum. “Iya,
teman lama Ayah. Tapi kita lama banget nggak ketemu. Kadang hidup itu suka aneh
ya, Nak. Orang yang kita kira hilang, bisa datang lagi.”
Nara juga pernah ditanya hal serupa oleh
putrinya. Dan jawaban yang keluar dari mulutnya bukanlah rangkaian pembenaran,
melainkan kesadaran baru. “Kadang ibu nggak tahu kenapa, tapi kalau sama Om Awan,
ibu bisa ketawa lagi. Ibu merasa ringan.”
Semua itu berjalan perlahan. Bukan cinta yang
meledak-ledak seperti dulu, tapi kasih yang tumbuh dari puing-puing. Yang tahu
luka, tapi juga tahu cara merawat. Yang tidak menginginkan drama, hanya
kehangatan yang bisa membuat pulang terasa seperti pulang.
Dan pada suatu sore yang hangat, setelah
selesai membersihkan sisa acara kecil ulang tahun anak sulung Nara, Awan duduk
di teras rumah sambil memandangi langit senja. Nara datang membawakan teh, lalu
duduk di sebelahnya. Tak banyak bicara, hanya membiarkan waktu berjalan.
“Aku masih nggak tahu masa depan bakal kayak
apa,” kata Nara.
“Aku juga,” jawab Awan. “Tapi aku tahu satu
hal... aku nggak mau kehilangan kamu lagi.”
Nara menoleh, matanya basah, tapi senyumnya lembut.
“Mungkin... kali ini kita bisa pulang, bukan
karena patah, tapi karena memang saling memilih.”
Langit sore itu perlahan berubah jingga,
seolah semesta ikut mengamini bahwa beberapa cinta memang harus berputar
dulu—sebelum benar-benar kembali ke rumahnya.
Bab 28: Pada Suatu Sore yang Tak Biasa
Pada suatu sore yang langitnya kelabu tapi
menenangkan, Nara duduk di beranda rumahnya, memandangi gerimis yang turun
pelan. Aroma tanah basah, suara dedaunan diguyur air, dan secangkir teh hangat
di tangannya—semuanya mengisi ruang kosong dalam dadanya dengan damai yang
sulit dijelaskan.
Lalu ada suara motor berhenti di depan pagar.
Awan.
Ia membuka helmnya perlahan dan tersenyum.
Tidak terburu-buru, tidak dengan semangat muda yang meledak-ledak, tapi dengan
tenang—seperti seseorang yang tahu ke mana ia akan pulang.
Nara berdiri dan membukakan pagar, tak banyak
kata. Hanya saling pandang. Hanya diam yang mengerti.
“Kamu dingin?” tanya Awan sambil menunjuk teh
di tangan Nara.
“Enggak juga. Cuma suka suasananya.”
Awan duduk di sebelahnya. Jarak mereka masih
cukup untuk tidak menyentuh, tapi juga cukup dekat untuk membuat detak jantung
Nara kembali ingat rasanya gugup.
“Aku sempat mikir,” kata Awan, menatap
gerimis. “Kita ini kayak dua sungai yang sempat menyatu, terus terpisah jauh
banget. Tapi pada akhirnya, balik ketemu juga di muara.”
Nara tersenyum pelan, tapi matanya berkaca.
“Tapi muaranya udah bukan dunia yang sama kayak dulu.”
“Memang bukan,” jawab Awan cepat. “Tapi
mungkin... kita bisa bangun dunia baru. Buat kita, buat anak-anak. Bukan untuk
menambal masa lalu, tapi untuk memberi arti sekarang.”
Ada jeda.
Lalu Nara bersandar pelan di bahu Awan. Air
matanya jatuh tanpa suara.
“Aku nggak mau buru-buru,” bisiknya.
“Aku juga,” balas Awan. “Aku cuma nggak mau
menyesal lagi. Itu saja.”
Dan di tengah hujan yang turun perlahan, di
sore yang biasa, dua hati yang lama terombang-ambing itu akhirnya berani
memikirkan satu hal yang dulu terlalu mustahil: memulai lagi, bukan dari awal,
tapi dari tempat terakhir mereka saling temukan.
Sebuah tempat yang mereka sebut pulang.
Bab 29: Langkah-Langkah Baru
Beberapa minggu setelah sore itu, hari-hari
mereka mulai menemukan pola baru—bukan kembali seperti dulu, tapi sebuah bentuk
yang lahir dari luka, pengertian, dan kedewasaan. Mereka tak lagi hidup dalam
bayang-bayang cinta masa lalu yang membuncah tanpa arah, tapi dalam cinta yang
tahu batas, tahu waktu, dan tahu untuk tidak selalu harus dimenangkan.
Anak-anak mereka perlahan mulai mengenal satu
sama lain. Tidak mudah, tentu saja. Ada kecanggungan. Ada tanya. Tapi
anak-anak, seperti alam, memiliki cara sendiri untuk tumbuh dalam situasi yang
berubah.
Raka, anak pertama Awan, tampak paling banyak
diam. Sementara Ayra, putri kedua Nara, cenderung ekspresif. Tapi satu momen
kecil—berbagi cerita tentang sekolah di meja makan, tawa kecil saat bermain
kartu bersama, atau saling bantu menyiapkan sarapan—pelan-pelan menjembatani
semua yang tadinya terpisah.
Nara dan Awan tidak langsung membicarakan masa
depan dalam bentuk-bentuk besar seperti pernikahan kembali atau rumah bersama.
Mereka memilih untuk hadir dulu. Menjadi ada. Dan itu, bagi keduanya, sudah
cukup menyembuhkan banyak hal.
Namun dunia di luar rumah tak selalu seiring.
Tetangga mulai bertanya. Teman-teman lama menyampaikan bisik-bisik. Bahkan
beberapa keluarga jauh menganggap mereka terlalu cepat menghapus duka dan
terlalu mudah menyambung kembali kisah lama.
Nara sempat goyah. Di malam-malam ketika
anak-anak sudah tidur, ia menatap langit dari jendela kamarnya, bertanya-tanya
apakah yang mereka lakukan adalah benar. Tapi setiap kali itu terjadi, Awan
selalu hadir—entah dengan ucapan, entah hanya lewat genggaman tangan—dan seolah
berkata: kita tahu ini tidak mudah, tapi tidak semua yang sulit harus
ditinggalkan.
Pada akhirnya, keduanya memilih untuk terus
berjalan. Perlahan. Tapi pasti. Mereka tahu luka masih ada. Tapi mereka juga
tahu: cinta yang bertahan dari waktu dan jarak, tidak datang dua kali dalam
hidup.
Dan mungkin, untuk pertama kalinya setelah
sekian lama, mereka tak lagi hanya menyukai sore yang tenang.
Mereka mulai percaya bahwa setiap pagi juga
pantas dirayakan.
“Kita nggak harus jadi sempurna, cukup jadi
saling.”
— Awan, suatu pagi, sambil menuangkan kopi ke cangkir Nara.
Bab 30: Mengakui Luka, Merawat Harapan
Pada akhirnya, keduanya memilih untuk terus
berjalan. Perlahan. Tapi pasti. Mereka tahu luka masih ada—mereka tak berniat
menghapusnya, hanya belajar hidup bersamanya. Seperti seseorang yang berjalan
dengan bekas luka di kaki: kadang terasa nyeri saat hujan turun, tapi tak lagi
membuat langkah mereka terhenti.
Nara mulai kembali bekerja, kali ini dengan
peran baru yang lebih fleksibel, agar ia bisa tetap banyak hadir di rumah. Awan
pun banyak merelakan waktu-waktu lemburnya, memilih pulang lebih awal agar bisa
duduk menemani anak-anak mengerjakan PR atau sekadar menonton acara TV
sederhana bersama-sama.
Ada malam-malam saat keduanya duduk berdua,
tak bicara banyak. Cukup menatap gelas teh yang mengepul atau mendengarkan
detik jam berdetak di dinding. Namun di dalam diam itu, mereka saling tahu:
mereka sudah tak lagi berusaha membuktikan apa-apa. Mereka hanya ingin
mencintai tanpa terburu-buru.
Satu malam, setelah meninabobokan anak-anak,
Awan duduk di teras, menatap langit. Nara menyusul, membawa dua cangkir cokelat
hangat.
“Aku nggak tahu hidup akan seperti ini,” kata
Nara pelan.
Awan menoleh, matanya hangat. “Aku juga. Tapi
aku tahu... kalau harus menulis ulang semuanya dari awal, aku tetap akan
memilih ada di bagian yang sama denganmu.”
Nara terdiam sejenak, lalu menyenderkan
kepalanya di bahu Awan. Di kejauhan, terdengar suara jangkrik bersahut-sahutan.
Dunia terasa sunyi, tapi di antara mereka—ada suara yang paling nyata:
penerimaan.
Tidak sempurna. Tidak bebas dari kesalahan.
Tapi nyata.
Dan untuk pertama kalinya sejak perjalanan
panjang itu dimulai, keduanya tak merasa bersalah untuk merasa bahagia.
Bab 31: Bahagia yang Akhirnya Datang Juga
Pagi itu matahari menyapa lembut dari balik
jendela kamar mereka. Bukan lagi hotel, bukan rumah sewa, bukan ruang-ruang
sementara yang dulu hanya menjadi saksi rasa yang tertahan. Ini rumah
mereka—akhirnya.
Ada foto keluarga di dinding ruang tamu. Foto
Nara, Awan, dan keempat anak mereka. Tidak ada perbedaan siapa dari rahim
siapa. Tidak ada pembatas nama keluarga. Hanya satu: keluarga.
Awan mengecup kening Nara seperti biasa
sebelum menyiapkan sarapan. Nara menyapu halaman sambil tersenyum melihat
tanaman-tanaman kecil yang mulai tumbuh. Hidup mereka tak lagi penuh gejolak
seperti dulu, tapi justru di ketenangan inilah mereka menemukan arti sebenarnya
dari “akhir yang bahagia.”
Anak-anak mulai memanggil satu sama lain
sebagai “kakak” dan “adik” tanpa perlu disuruh. Mereka mulai terbiasa saling
menunggu sebelum makan malam. Saling bercerita tentang hari-hari mereka. Bahkan
mulai memperebutkan remote TV—seperti keluarga mana pun yang sedang belajar
hidup bersama.
Di meja makan, tak jarang Nara dan Awan saling
mencuri pandang dan tertawa kecil melihat kekacauan yang manis itu.
“Gimana kalau liburan ke pantai?” usul Awan
suatu hari, saat sore menjemput.
“Pantai?” Nara menoleh, tersenyum, seolah
mengingat sesuatu yang sangat jauh tapi juga dekat.
“Iya. Mungkin... kita bisa tunjukkan pada
anak-anak, jejak kita yang pertama.”
Nara menatapnya, kali ini lebih lama.
“Jejak yang dulu hilang karena ombak...
sekarang bisa kita tanamkan lagi, tapi bersama mereka.”
Awan mengangguk. Tak perlu berkata apa-apa.
Karena akhirnya, bahagia mereka bukan datang dari pelarian atau kenangan. Tapi
dari keberanian untuk jujur, untuk saling memilih lagi—meski dunia pernah
memisahkan mereka berkali-kali.
Hari-hari mereka kini bukan tanpa masalah.
Tapi semua terasa bisa dihadapi karena mereka tidak lagi sendiri. Mereka adalah
dua hati yang pernah hancur, dua jiwa yang pernah tersesat, dan kini satu
rumah—dalam arti paling utuhnya.
Dan untuk pertama kalinya...
Bahagia mereka bukan akhir. Tapi awal yang baru.
Waktu berlalu, dan kehidupan terus berjalan
seperti aliran sungai yang tak pernah berhenti meskipun kadang terhalang batu
besar. Nara dan Awan, yang dulu pernah terpisah oleh jarak dan takdir, kini
kembali berdiri bersama, tidak hanya sebagai pasangan, tetapi sebagai teman
hidup sejati.
Mereka belajar bahwa cinta tidak selalu datang
dengan cara yang sempurna. Terkadang, ia hadir dalam bentuk luka yang harus
sembuh, dalam kebisuan yang harus diterjemahkan, dan dalam waktu yang tak
selalu memberi jawaban instan. Namun, yang terpenting, mereka belajar bahwa tak
ada perjalanan yang sia-sia—setiap langkah yang mereka ambil, setiap air mata
yang mereka jatuhkan, membawa mereka ke titik ini.
Mereka tidak lagi takut pada kehilangan,
karena mereka tahu bahwa setiap hari bersama adalah hadiah yang tak ternilai.
Anak-anak mereka tumbuh dengan rasa saling menghormati dan cinta yang kuat.
Mereka mengajarkan tentang kekuatan memaafkan, tentang keberanian untuk
mencintai meskipun ada banyak hal yang tak terduga, dan tentang pentingnya
memiliki keluarga sebagai tempat yang aman.
Dan meskipun kehidupan tak selalu berjalan
mulus, Nara dan Awan tahu bahwa mereka kini tak akan pernah sendirian lagi.
Mereka memiliki satu sama lain, dan itu lebih dari cukup.
Di penghujung hari, saat matahari tenggelam,
Nara dan Awan duduk berdua di teras rumah mereka, memandangi anak-anak yang
bermain di halaman.
"Aku masih ingat betul hari pertama kita
bertemu," kata Awan, memandang Nara dengan tatapan yang dalam.
"Begitu juga aku," jawab Nara,
tersenyum. "Dan aku tahu, takdir kita bukan kebetulan."
Awan meraih tangan Nara, menggenggamnya erat.
"Tidak ada lagi yang akan memisahkan kita, Nara. Tidak sekarang. Tidak
lagi."
Nara mengangguk, merasakan kedamaian yang
selama ini ia cari. Mereka mungkin tak tahu apa yang akan terjadi esok, tapi
yang pasti, mereka telah memilih untuk menjalani hari ini bersama. Dan itu
sudah lebih dari cukup.
Tamat.