Rabu, 23 April 2025

Part 4 “Jika Bukan Kamu, Siapa Lagi Selain Kamu: Takdir yang Menyatukan Kembali”

 

“Jika Bukan Kamu, Siapa Lagi Selain Kamu: Takdir yang Menyatukan Kembali”

 

Bab 10: Takdir yang Menyatukan Kembali

Kehidupan sering kali membawa kita pada jalan yang tidak pernah kita duga. Begitu pun dengan Nara dan Awan. Meskipun mereka sudah jauh melangkah dalam kehidupan masing-masing, takdir sepertinya tidak begitu mudah melepaskan mereka dari hubungan yang telah terjalin lama, meskipun kini dalam bentuk yang berbeda.

Semuanya dimulai dengan sebuah kesempatan baru. Nara, yang sudah merasa nyaman dengan kehidupan keluarga dan pekerjaannya sebagai manajer pemasaran di sebuah perusahaan besar, tiba-tiba mendapat tawaran yang menggiurkan. Sebuah perusahaan teknologi yang sedang berkembang pesat di bidang pengembangan perangkat lunak menawarkan posisi yang lebih tinggi. Posisi itu tentu saja memberikan tantangan yang lebih besar, serta peluang untuk berkembang. Tanpa ragu, Nara memutuskan untuk menerima tawaran tersebut. Dia merasa ini adalah saat yang tepat untuk kembali mengejar ambisinya setelah sekian lama lebih fokus pada keluarga.

Di sisi lain, Awan, yang sudah cukup lama bekerja sebagai kepala divisi riset di sebuah perusahaan terkemuka, juga mendapat tawaran untuk bergabung dengan perusahaan yang sama. Berbeda dengan Nara, Awan lebih tertarik dengan bidang teknologi yang sedang berkembang pesat. Perusahaan itu menawarkan kesempatan untuk memimpin tim riset yang akan mengembangkan produk baru yang revolusioner. Seperti Nara, Awan pun merasa ini adalah waktu yang tepat untuk meraih pencapaian baru dalam kariernya.

Mereka berdua, tanpa saling mengetahui satu sama lain, menerima tawaran dari perusahaan yang sama—dan tanpa diduga, mereka berakhir di ruang yang sama. Ketika pertama kali masuk ke perusahaan itu, Nara merasa ada yang familiar. Bau kopi dari mesin pembuat kopi di sudut ruangan, desain kantor yang modern dan terbuka, serta suara ketukan keyboard yang terdengar di setiap sudut. Tetapi perasaan itu tidak cukup kuat untuk membawanya kembali ke masa lalu—sehingga ia melangkah lebih jauh menuju ruangannya yang baru.

Namun, segalanya berubah saat sebuah pertemuan antar divisi digelar untuk memulai proyek besar yang akan menggabungkan berbagai tim. Nara memasuki ruang konferensi, dan di sana, di hadapan semua rekan kerjanya, ia melihat seseorang yang sangat dikenalnya—Awan. Matanya bertemu dengan Awan, dan sekejap itu terasa seperti waktu berhenti.

"Awan?" suara Nara terputus, tak percaya dengan apa yang dilihatnya.

Awan yang sudah berdiri di depan papan tulis, membalikkan badan dan menatap Nara dengan tatapan yang sama terkejutnya. Wajahnya memerah sejenak, seperti terhenti oleh kilas kenangan yang datang begitu saja. Suasana di ruangan itu seketika menjadi hening. Semua mata tertuju pada mereka, tetapi sepertinya hanya mereka berdua yang ada di sana.

"A... Nara?" Awan akhirnya bisa berkata, mencoba mengendalikan diri. "Kamu... di sini?"

Nara mengangguk perlahan, berusaha menjaga sikap profesional meski jantungnya berdegup kencang. "Iya, sepertinya kita takdir bertemu lagi."

Awan tersenyum tipis. "Takdir, ya... sepertinya kita memang tak pernah bisa benar-benar terpisah."

Di dalam hati mereka, sebuah perasaan yang dalam dan lama terkubur, kembali muncul. Namun kali ini, mereka tahu bahwa ini bukan tentang mengulang apa yang sudah lalu. Ini tentang menghadapi kenyataan baru, tentang bekerja bersama di sebuah perusahaan yang memiliki visi yang sama, namun di divisi yang berbeda.

Setelah pertemuan itu, mereka kembali melanjutkan pekerjaan mereka masing-masing, namun hubungan mereka mulai terasa berbeda. Mereka bekerja dengan sangat profesional, tetapi setiap pertemuan, setiap diskusi yang melibatkan keduanya, selalu meninggalkan bekas—entah itu senyum kecil, tatapan yang tidak bisa dihindari, atau kenangan yang perlahan kembali mengisi ruang di antara mereka.

Waktu pun berlalu. Meski bekerja di divisi yang berbeda, mereka sering kali berinteraksi dalam proyek-proyek bersama, berbagi ide dan berdiskusi tentang inovasi. Masing-masing dari mereka semakin dihormati di bidangnya. Namun, di setiap pertemuan mereka, meskipun tidak ada kata-kata yang terlalu dalam, keduanya bisa merasakan kehadiran satu sama lain—seperti dua kekuatan yang saling tarik menarik meskipun tidak ada yang bisa mereka ubah.

Malam-malam yang panjang di kantor, di mana mereka terpaksa menghabiskan waktu lebih lama, kadang membawa mereka untuk duduk berdua. Tanpa terasa, percakapan tentang pekerjaan sering kali meluas menjadi percakapan pribadi—tentang kehidupan, masa lalu, dan segala yang terjadi sejak pertemuan terakhir mereka.

"Aku masih ingat bagaimana kita dulu sering duduk di tepi pantai, menunggu matahari terbenam," kata Nara suatu malam, saat mereka berdua hanya duduk di ruang makan kantor, secangkir kopi di tangan masing-masing.

Awan mengangguk, mata sejenak mengembara jauh, seolah meresapi kata-kata itu. "Aku juga. Tapi sekarang rasanya semuanya sudah berbeda, ya? Kita tidak bisa kembali ke masa itu."

Nara tersenyum lembut, ada rasa yang sulit diungkapkan. "Mungkin kita memang tidak bisa. Tapi kita bisa berjalan maju. Meski dengan cara yang berbeda."

Awan menatap Nara, dan untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, dia merasa damai. Mereka tidak perlu kembali ke masa lalu, tidak perlu menyesali apa yang telah terjadi. Mereka sudah menemukan jalan masing-masing. Mungkin mereka tak lagi berada di jalur yang sama seperti dulu, tetapi mereka tahu—takdir kembali mempertemukan mereka di sini, dalam bentuk yang lebih dewasa dan lebih siap menerima kenyataan hidup.

 

Bab 11: Titik Temu yang Baru

Minggu-minggu berikutnya di perusahaan terasa seperti sebuah perjalanan baru bagi Nara dan Awan. Meskipun tak lagi ada kedekatan seperti dulu, keduanya mulai belajar untuk melihat satu sama lain dengan cara yang berbeda. Mereka menjadi lebih fokus pada pekerjaan masing-masing, namun tak bisa mengelak dari kenyataan bahwa takdir seringkali mempertemukan mereka di proyek-proyek besar.

Pernah suatu kali, Nara dan Awan harus bekerja bersama dalam sebuah tim untuk mengembangkan produk terbaru perusahaan. Mereka berada di dalam ruang konferensi yang sama, berdiskusi tentang ide-ide inovatif yang akan membawa perusahaan menuju kesuksesan. Terkadang, tanpa disadari, tatapan mereka bertemu—dan dalam sekejap, ada perasaan yang sulit dijelaskan. Tak bisa dipungkiri, meskipun mereka sudah berusaha keras untuk memisahkan diri dari masa lalu, ada bagian dari mereka yang selalu terikat.

Namun, kali ini mereka berdua sepakat—ini bukan tentang melangkah mundur atau kembali ke masa lalu. Ini tentang menghargai apa yang ada di depan mereka, tentang bekerja dengan sepenuh hati tanpa melibatkan perasaan yang mengganggu.

Satu malam, setelah jam kerja selesai, Nara dan Awan menemukan diri mereka berdiri di balkon gedung perusahaan, memandang ke arah kota yang gemerlap. Angin malam yang sejuk menyapu wajah mereka. Hanya ada suara gemericik air dari kolam di bawah mereka dan suara langkah kaki yang jauh di belakang. Sepertinya, hanya ada mereka berdua di sana, dalam keheningan yang nyaman.

"Aku dulu pernah berpikir kita akan selalu seperti ini, selalu bersama," kata Nara pelan, menatap ke arah cakrawala.

Awan mengangguk, matanya mengikuti pandangannya. "Aku juga, Ra. Tapi hidup ternyata membawa kita ke jalan yang berbeda. Mungkin itu yang seharusnya terjadi."

Nara tersenyum, walaupun ada sedikit kesedihan di dalam senyum itu. "Kita tidak bisa mengubah apa yang sudah terjadi. Tapi kita bisa belajar dari itu, kan?"

Awan menoleh dan menatapnya dengan tatapan penuh pengertian. "Iya, kita bisa. Dan aku rasa kita sudah cukup dewasa untuk memahami bahwa kehidupan memang bukan tentang mencari yang hilang, tetapi tentang menerima yang ada."

Mereka terdiam beberapa saat, menikmati ketenangan malam itu. Tidak ada kata-kata besar yang perlu diucapkan. Mereka hanya berdua, berdiri di sana, saling berbagi ruang tanpa beban. Mungkin mereka sudah tidak lagi bisa kembali seperti dulu, tetapi mereka tahu—mereka telah menemukan cara untuk berdamai dengan masa lalu dan menghargai hubungan yang ada saat ini.

Sejak malam itu, hubungan mereka semakin berkembang. Tak lagi ada keraguan atau kecanggungan di antara mereka. Mereka berdua tahu bahwa apa yang terjadi di masa lalu adalah bagian dari perjalanan yang membentuk mereka menjadi siapa mereka hari ini.

Pekerjaan menjadi lebih menyenangkan, meskipun mereka tetap bekerja di divisi yang berbeda. Namun, kehadiran satu sama lain memberikan semacam ketenangan. Mereka mulai berbicara lebih sering, berbagi pandangan dan gagasan, bahkan terkadang meluangkan waktu untuk makan siang bersama, tertawa ringan dan bercerita tentang kehidupan mereka yang telah berubah begitu banyak.

Tak ada lagi bayang-bayang cinta yang tak terungkap. Hanya ada dua individu yang saling menghargai dan saling mendukung, meskipun jalan hidup mereka berbeda. Mereka menyadari bahwa terkadang, perasaan bisa bertransformasi menjadi sesuatu yang lebih dalam, sesuatu yang tidak melibatkan romantisme semata, tetapi juga persahabatan dan saling pengertian.

Seiring berjalannya waktu, proyek-proyek mereka semakin berhasil. Mereka meraih prestasi, membawa perusahaan maju ke arah yang lebih baik. Namun, di balik kesuksesan itu, mereka tahu—ini bukan hanya tentang hasil pekerjaan mereka, tetapi juga tentang bagaimana mereka mampu berdamai dengan diri mereka sendiri, dengan kenangan, dan dengan perasaan yang lama terkubur.

Bab 12: Titik Balik dalam Hidup

Beberapa tahun berlalu, dan pertemuan-pertemuan Nara dan Awan di kantor menjadi semakin jarang. Mereka sudah berada pada jalur mereka masing-masing. Nara semakin terlibat dalam dunia manajemen, sementara Awan terus mendalami riset dan pengembangan teknologi.

Namun, suatu hari, Nara menerima telepon yang mengubah segalanya. Salah satu proyek besar perusahaan mengalami kegagalan yang tak terduga, dan kini perusahaan sedang dalam kondisi yang cukup kritis. Awan dan Nara dipanggil untuk menjadi bagian dari tim penyelamat, untuk bekerja sama menyelamatkan perusahaan dari kejatuhan.

Kali ini, mereka bekerja lebih dekat daripada sebelumnya. Tak hanya dalam hal pekerjaan, tetapi juga dalam hubungan pribadi mereka. Tanpa mereka sadari, kerjasama mereka menghidupkan kembali ikatan yang dulunya pernah ada. Meskipun tidak ada lagi cinta yang mendalam seperti dulu, ada kehangatan yang tak terungkapkan. Mereka saling memahami, saling memberi semangat, dan saling mendukung dalam setiap langkah yang mereka ambil.

Awan menyadari bahwa meskipun mereka sudah berpisah, mereka masih punya sesuatu yang berharga. Nara juga merasakan hal yang sama—bahwa terkadang, tidak perlu ada romansa dalam hubungan untuk membuatnya berharga. Mereka sudah cukup dewasa untuk menghargai kehadiran satu sama lain, dan itu sudah lebih dari cukup.

Kehidupan mereka pun terus berjalan. Nara dan Awan melanjutkan pekerjaan mereka dengan penuh dedikasi, namun kini mereka tahu bahwa hubungan mereka lebih dari sekadar rekan kerja. Ada rasa saling menghormati dan saling mendukung yang mengikat mereka lebih kuat dari sebelumnya.

Takdir memang membawa mereka kembali bersama, namun kali ini mereka lebih siap untuk menerima segala perubahan yang datang.

 

Bab 13: Kembali ke Awal, Tapi Dengan Cara yang Baru

Waktu terus berjalan, dan meskipun Nara dan Awan semakin sibuk dengan pekerjaan mereka, perasaan yang sempat terkubur mulai muncul lagi, dengan cara yang tak terduga. Tentu saja, mereka sudah memiliki pasangan masing-masing, dan seharusnya itu adalah garis batas yang tak bisa mereka lewati. Namun, intensitas pertemuan mereka di kantor, kerja sama yang semakin erat, serta kehadiran satu sama lain dalam setiap keputusan penting, mulai mengaburkan garis tersebut.

Setiap pagi, ketika mereka bertemu di kantor, ada perasaan yang sulit untuk disembunyikan. Mereka mulai saling mencari, bukan hanya untuk pekerjaan, tetapi juga untuk berbicara lebih lama, untuk berbagi cerita tentang hari-hari mereka, tentang apa yang mereka rasakan, dan bagaimana kehidupan mereka berjalan. Mereka tak lagi hanya berkomunikasi secara profesional, tetapi mulai membuka sedikit demi sedikit pintu yang dulunya sempat tertutup rapat.

Namun, ada satu hal yang berbeda. Meskipun perasaan itu kembali, Nara dan Awan tahu bahwa mereka tidak bisa melupakan kenyataan bahwa mereka sudah memiliki hidup masing-masing. Nara dengan suami yang penuh perhatian dan Awan dengan istri yang selalu mendukung. Keduanya tahu betul bahwa mereka tak bisa mengabaikan komitmen yang sudah mereka buat. Tetapi, apakah perasaan ini benar-benar bisa disangkal?

Suatu hari, setelah rapat besar yang panjang, Awan mengajak Nara untuk duduk sebentar di kafe kecil di bawah gedung. Suasana sore itu tenang, hanya ada suara musik lembut dan percakapan yang jauh di meja lain. Nara, meskipun tahu betul betapa rumitnya situasi ini, memutuskan untuk tetap duduk dan berbicara dengan Awan. Mereka berdua sudah terlalu banyak melalui perubahan, dan mungkin, saat ini, mereka hanya membutuhkan satu sama lain untuk menyelesaikan sebuah babak yang belum selesai.

"Awan," kata Nara, suaranya lembut, namun penuh makna. "Kita sudah lama nggak pernah benar-benar bicara, ya? Seperti kita menghindari sesuatu yang tidak bisa kita ubah."

Awan mengangguk pelan. "Aku tahu, Ra. Kita memang sudah memilih jalan masing-masing. Tapi entah kenapa, setiap kali aku di sini, bekerja denganmu, rasanya seperti aku kembali ke tempat yang pernah aku kenal."

Nara terdiam sejenak, menatap Awan dengan tatapan yang dalam. Perasaan itu, yang dulunya terpendam, mulai mengalir lagi. Ada begitu banyak kenangan yang datang, begitu banyak waktu yang mereka habiskan bersama. Mungkin, mereka berdua tahu, mereka tidak bisa sepenuhnya menutup mata terhadap kenyataan bahwa perasaan ini masih ada. Namun, Nara tahu, mereka harus berhati-hati. Mereka sudah berbeda—dalam banyak hal.

"Aku nggak tahu, Awan," Nara akhirnya berkata. "Kadang, aku merasa bahwa kita bisa terus melangkah maju tanpa menoleh lagi ke belakang, tapi ada kalanya aku merasa ada sesuatu yang belum selesai."

Awan merasakan getaran di dalam dirinya. "Aku merasa hal yang sama, Ra. Tapi kita sudah punya hidup yang berjalan dengan baik. Aku nggak mau merusak itu."

Namun, keheningan yang menyelimuti mereka berdua di kafe itu menjadi begitu berat. Mereka berdua tahu bahwa meskipun hidup mereka sudah berjalan dengan baik, ada bagian dari hati mereka yang belum sepenuhnya diberi ruang untuk tumbuh. Tidak ada jawaban yang mudah. Hanya ada kenyataan bahwa mereka berdua telah berubah. Namun, perasaan itu, meskipun berbeda dari dulu, tetap ada—menunggu waktu yang tepat untuk muncul.

Beberapa minggu kemudian, pertemuan mereka di kantor semakin intensif. Proyek demi proyek membuat mereka semakin sering bekerja bersama, dan mereka semakin terikat, baik dalam pekerjaan maupun dalam percakapan kecil yang lebih personal. Mereka mulai berbicara lebih banyak tentang kehidupan mereka—tentang pasangan mereka, anak-anak mereka, tentang bagaimana dunia mereka berubah sejak mereka pertama kali berpisah.

Namun, ada satu malam yang berubah segalanya.

Setelah jam kerja, Nara dan Awan memutuskan untuk berjalan-jalan di taman dekat kantor. Mereka berbicara panjang lebar tentang berbagai hal, mulai dari pekerjaan hingga kehidupan pribadi. Keheningan malam itu terasa berbeda. Mereka saling berbicara dengan begitu terbuka, seolah-olah tidak ada lagi hal yang harus disembunyikan.

"Ra," Awan akhirnya berkata, berhenti di tengah jalan setapak yang sepi. "Aku nggak tahu bagaimana cara mengatakannya, tapi aku merasa kita berdua sudah melalui begitu banyak hal, dan aku... aku nggak bisa terus hidup hanya dengan penyesalan."

Nara menatapnya, hatinya berdebar. "Apa maksudmu, Awan?"

"Aku tahu ini salah," Awan melanjutkan, matanya menatap dalam ke matanya. "Tapi aku nggak bisa menahan perasaan ini lebih lama lagi. Aku masih mencintaimu, Nara. Aku nggak tahu apakah itu benar atau tidak, tapi yang pasti, aku nggak bisa menghindarinya."

Nara terdiam. Semua yang pernah dia rasakan mulai membanjiri pikirannya. Cinta, kehilangan, penyesalan—semua perasaan yang tak terucapkan kembali hadir. Dia tahu bahwa apa yang Awan katakan adalah kebenaran yang sulit dihadapi. Mereka berdua tahu bahwa mereka sudah memiliki hidup masing-masing, namun di dalam hati mereka, masih ada ruang untuk satu sama lain.

"Awan," Nara berkata dengan suara yang hampir bergetar. "Aku juga merasa hal yang sama. Tapi kita tidak bisa kembali ke masa lalu, bukan? Kita sudah punya hidup kita sendiri."

Awan menggenggam tangannya, perlahan. "Aku tahu. Tapi apakah kita bisa memberi kesempatan pada diri kita untuk mencoba? Aku nggak ingin menyesal lagi karena tidak pernah mencoba."

Ada keheningan panjang di antara mereka. Nara merasakan berat di dadanya, namun ada juga perasaan lega. Mereka tahu bahwa keputusan ini tidak mudah, dan akan banyak hal yang harus mereka pertimbangkan. Tetapi di sinilah mereka, berdiri di persimpangan jalan, memilih apakah mereka akan melanjutkan atau tidak.

Awan menatap Nara dengan harapan yang tak terucapkan. "Aku hanya ingin kita mencoba, Nara. Hanya mencoba."

Setelah beberapa lama terdiam, Nara akhirnya mengangguk. "Kita akan coba, Awan. Tapi kita harus berhati-hati. Kita harus memastikan bahwa kita tidak mengulangi kesalahan yang sama."

Malam itu, di bawah langit yang berbintang, Nara dan Awan tahu bahwa mereka sedang memulai babak baru dalam hidup mereka. Mungkin bukan untuk kembali ke masa lalu, tetapi untuk mencari arti baru dari cinta yang mereka pikir sudah hilang. Tetapi kali ini, mereka akan melakukannya dengan cara yang lebih bijaksana, dengan hati yang lebih terbuka, dan dengan keputusan yang lebih matang.

 

 

Bab 14: Rasa yang Tak Pernah Selesai

Hari-hari di kantor itu mulai terasa aneh bagi Nara. Bukan karena pekerjaannya yang sulit, atau rekan-rekan kerja yang tidak ramah. Tapi karena satu nama yang kembali hadir dalam hidupnya—Awan. Setiap pertemuan rapat, setiap tidak sengaja saling menyapa di pantry, setiap kali suara itu terdengar memanggil nama “Nara” dari ujung lorong—semuanya perlahan menggoyahkan benteng yang telah ia bangun selama bertahun-tahun.

Awan pun tak bisa menyangkal. Kehadiran Nara di gedung yang sama, hanya beda lantai, seolah jadi pengingat hidup bahwa perasaan lama itu belum benar-benar hilang. Mereka saling menjaga jarak, tapi dunia tampaknya terlalu kecil untuk dua hati yang masih saling mengenali.

Mulanya mereka hanya bertukar kabar sepintas. Lalu, makan siang bersama karena rapat lintas divisi. Setelahnya, mulai saling bercerita tentang anak-anak, pasangan, dan rutinitas rumah yang kadang terlalu sunyi. Dari situ, semuanya perlahan berubah.

Kedekatan itu tumbuh bukan dalam letupan, tapi dalam keheningan yang lama. Dalam detik-detik menunggu lift. Dalam senyap di parkiran sepulang lembur. Dalam sejuknya pagi sebelum kantor benar-benar sibuk.

Sampai akhirnya, satu momen di luar kota—dinas bersama dalam proyek besar—menggugurkan batas yang selama ini mereka tegakkan. Malam itu, setelah seharian rapat dan bertemu klien, mereka duduk di balkon hotel, hanya berdua, ditemani kopi yang mulai dingin.

"Kenapa ya... rasanya semua ini seperti dulu?" Nara bertanya, suaranya nyaris berbisik.

Awan menatap langit malam yang gelap. "Karena mungkin... kita nggak pernah benar-benar selesai."

Hening.

Dan dalam keheningan itu, mereka sadar: yang mereka jalani selama ini bukan sekadar nostalgia. Tapi sesuatu yang nyata. Sesuatu yang masih hidup, meskipun selama ini disimpan rapi di balik nama “kenangan”.

Hubungan mereka berubah. Perlahan tapi pasti. Makin sering bertukar pesan. Makin sering mencari-cari alasan untuk bertemu. Dan makin sulit berpura-pura bahwa semua baik-baik saja.

Namun di balik itu semua, masing-masing tahu: ada banyak yang dipertaruhkan. Ada banyak hati yang bisa terluka. Ada rumah yang bisa runtuh karena satu langkah yang salah.

Dan itulah yang membuat semuanya semakin rumit—karena rasa itu, seindah apa pun, tetap tak bisa disebut benar.

 

Bab 15: Antara Yang Pernah dan Yang Ada

Tidak ada yang mudah ketika hati mulai menginginkan sesuatu yang tak seharusnya lagi dimiliki. Sejak malam itu, segalanya berubah. Bukan hanya jarak yang kian dekat, tapi juga hati yang semakin sulit dikendalikan.

Nara bangun lebih awal pagi itu. Di kamar hotel yang sama, dengan tirai yang setengah terbuka, ia menatap langit kelabu yang menggantung di luar jendela. Hatinya berat. Ada bagian dari dirinya yang ingin waktu membeku semalam. Tapi ada bagian lain yang meronta, menyadari bahwa semua ini tak seharusnya terjadi.

Ia memalingkan wajah ke arah Awan yang masih tertidur lelap. Lelaki yang dulu ia cintai diam-diam, yang pernah ia lepaskan dengan luka, kini ada di sisinya lagi—dalam cara yang bahkan lebih membingungkan daripada sebelumnya.

“Ini salah,” gumamnya pelan, lebih pada dirinya sendiri.

Tapi perasaan bukanlah sesuatu yang bisa diatur sesederhana itu. Mereka mencoba bersikap biasa di kantor—bertegur sapa dengan formalitas, menahan lirikan mata yang ingin lebih lama bertahan. Tapi setiap interaksi hanya menambah lapisan kegelisahan di hati mereka.

Awan pun merasakan hal yang sama. Dalam keheningan malam-malamnya sendiri, ia menatap wajah istrinya yang tertidur, bertanya-tanya mengapa hatinya justru bergema oleh kenangan bersama Nara. Ia mencintai keluarganya, itu tidak diragukan. Tapi mengapa perasaannya seperti diseret kembali ke masa lalu yang belum usai?

Pada akhirnya, mereka mulai menghindar. Mencari jeda. Tapi takdir seperti selalu tahu cara mempertemukan mereka lagi—lewat proyek baru, rapat dadakan, atau sekadar bertemu di lift tanpa sengaja.

Dan setiap pertemuan itu, terasa seperti luka yang disayat ulang, tapi juga seperti rumah yang lama ditinggalkan dan kini diketuk kembali.

Mereka tahu, jika terus seperti ini, akan ada yang terluka. Akan ada yang hancur. Tapi saat cinta bertabrakan dengan kenyataan, tak selalu ada jalan pulang yang tak berdarah.

Semakin mereka mencoba berpura-pura, semakin jelas dunia tidak benar-benar buta. Rekan-rekan kerja mulai berbisik. Sekilas pandang yang terlalu sering. Tawa yang terdengar terlalu akrab. Waktu lembur yang selalu berakhir bersamaan. Tak semua orang mempercayai kebetulan.

Nara menyadari itu pertama kali ketika salah satu teman sekantornya—Ina, dari divisi HR—menatapnya lama setelah rapat. Tatapan yang tidak menghakimi, tapi cukup tajam untuk menusuk.

“Kamu baik-baik aja, Nar?” tanya Ina, seperti biasa, tapi dengan nada yang lebih hati-hati.

Nara tersenyum. “Baik, kok. Kenapa?”

Ina hanya mengangkat bahu, lalu beralih ke dokumennya. Tapi Nara tahu, pertanyaan itu bukan tanpa alasan.

Dan malam itu, saat ia pulang lebih lambat dari biasanya, suaminya sudah duduk di ruang tamu. Ponselnya tergeletak di meja, layar masih menyala—sebuah foto yang dikirimkan entah oleh siapa: dirinya dan Awan, berdiri terlalu dekat di lobi hotel tempat mereka sering menginap saat dinas.

“Aku nemu ini di grup alumni kampus,” ucap suaminya pelan, matanya lurus ke depan. “Kamu mau cerita sesuatu?”

Nara terdiam. Lidahnya kelu. Bukan karena ia tidak tahu harus berkata apa, tapi karena ia tahu, tak ada jawaban yang akan membuat segalanya tampak benar.

Sementara itu, Awan juga menghadapi badai di rumah. Istrinya—yang selama ini begitu percaya padanya—menjadi pendiam. Ia mulai mengecek ponsel Awan diam-diam. Menggali sisa-sisa tanda, mencium aroma perubahan yang tak bisa dijelaskan. Awan mencoba meyakinkan, berusaha tetap jadi suami yang bertanggung jawab. Tapi getaran hatinya sudah tidak bisa dibohongi.

Hubungan mereka yang dulu dibalut nostalgia, kini seperti dua api yang saling membakar. Indah tapi menyakitkan. Dalam tapi salah arah.

Mereka mulai mempertanyakan: apakah ini cinta yang seharusnya diperjuangkan? Ataukah hanya pelarian dari rutinitas dan kehampaan yang diam-diam menggerogoti hidup mereka?

Dan untuk pertama kalinya sejak pertemuan kembali itu, Nara menangis dalam pelukan Awan—bukan karena bahagia, tapi karena takut kehilangan segalanya.

 

 

Bab 16: Jalan yang Harus Dipilih

Hidup selalu menuntut harga untuk kebahagiaan yang dicuri diam-diam. Dan kini, waktunya membayar datang lebih cepat dari yang mereka perkirakan.

Awan menatap layar ponselnya lama. Ada sepuluh panggilan tak terjawab dari istrinya. Belum termasuk pesan-pesan yang tak sempat ia balas. Di ruangannya yang senyap, hanya ada desahan napasnya sendiri—berat, bingung, dan terjebak antara dua dunia yang sama-sama ia cintai.

Sementara itu, Nara duduk di kursi rotan dekat jendela apartemennya. Malam turun perlahan, menyelimuti kota dengan gelap yang terasa lebih dingin dari biasanya. Ia memutar ulang pesan suara dari Ina—temannya yang kini lebih seperti cermin nurani.

"Kamu perempuan pintar, Nara. Tapi kebahagiaan yang datang dari luka orang lain, akan terus menggigit di belakang."

Kata-kata itu bukan ancaman, bukan juga nasihat. Hanya kebenaran yang tak bisa lagi diabaikan.

Pagi harinya, mereka bertemu seperti biasa di pantry kantor. Tapi tak ada senyum, tak ada sapaan lembut. Hanya tatapan yang lama dan sarat makna. Tatapan dua orang yang tahu, mereka sedang berdiri di ujung yang sama—tapi jalan di depan tak lagi bercabang, melainkan menjurus ke arah yang tak bisa dilewati berdua.

“Aku mau pindah,” ucap Nara pelan, menunduk. “Ke cabang Makassar. Sudah bicara sama HR kemarin.”

Awan menatapnya lekat. “Kenapa nggak bilang dulu ke aku?”

“Karena ini bukan soal kamu atau aku. Ini soal... menyelamatkan yang masih bisa diselamatkan.”

Hening. Hanya suara mesin kopi yang mendesis pelan, seolah ikut menyadari betapa beratnya percakapan itu.

“Aku nggak siap kehilangan kamu lagi, Nar,” Awan akhirnya berkata. Suaranya hampir bergetar. “Tapi aku juga tahu, mempertahankan begini... itu bukan cinta. Itu ego.”

Mereka diam. Sama-sama tahu, ini bukan tentang siapa yang lebih mencintai. Tapi siapa yang lebih kuat untuk melepaskan.

Hari itu, mereka berpisah dengan pelukan yang lama. Bukan pelukan selamat tinggal, tapi pelukan “terima kasih”—karena pernah menjadi rumah satu sama lain, walau sebentar, walau salah waktu.

Dan ketika pintu lift tertutup di antara mereka, keduanya tahu: cinta sejati tidak selalu harus memiliki. Kadang, cinta sejati adalah ketika seseorang memilih pergi... agar yang lain bisa tetap utuh.

 

Bab 17: Merawat Luka yang Tak Terlihat

Makassar menyambut Nara dengan langit yang berbeda. Lebih biru, lebih sunyi. Ia belajar menyukai kesendirian yang tak lagi ia tolak. Setiap pagi ia berjalan kaki ke kantor, menyeberangi jalan yang tak ramai, menatap laut yang jauh di ujung pandangan. Setiap sore, ia pulang ke apartemen kecil dengan cat dinding putih dan meja kayu yang ia pilih sendiri.

Di sudut meja itu, ada bingkai kosong. Dulu untuk foto, sekarang hanya jadi pengingat: bahwa ada ruang di hidupnya yang memang tak harus diisi lagi.

Ia tidak membenci Awan. Tidak juga marah. Yang tertinggal hanyalah rasa yang tak bisa ia sebut—antara kehilangan dan kelegaan, antara rindu dan rasa bersalah.

Sementara di kota lain, Awan menjalani hari-harinya dalam hening yang dipaksakan. Rumahnya tetap berdiri kokoh, tapi kehangatan yang dulu ada di dalamnya kini terasa seperti bayangan masa lalu.

Ia mencoba menjadi ayah yang lebih hadir, lebih lembut. Tapi setiap kali ia duduk sendiri di teras belakang rumah, bayangan Nara datang lagi. Bukan untuk menyakiti, tapi hanya menatap, seolah bertanya: “Kamu baik-baik saja, Awan?”

Ia tahu jawaban itu tak pernah benar-benar iya.

Luka mereka tak berdarah, tapi dalam. Dan seperti luka dalam, ia tak mudah sembuh—hanya bisa dirawat dalam diam. Lewat lagu-lagu yang mendadak membekukan napas, lewat wangi kopi yang membawa ingatan, lewat nama jalan yang terdengar akrab tapi perih.

Mereka tak saling hubungi lagi. Tak saling cari. Tapi ada semacam kesepakatan tanpa suara: bahwa cinta bisa tinggal, meski orangnya harus pergi.

Dan hidup terus berjalan.

Dalam diam, mereka belajar satu hal penting—bahwa tidak semua yang indah harus dimiliki selamanya. Ada yang cukup disyukuri karena pernah nyata, walau hanya sebentar.

 

Bab 18: Segala Cara untuk Dekat Lagi

Awan tahu betul, cinta yang ia miliki untuk Nara tak bisa sembuh hanya dengan waktu. Hari-hari yang ia jalani tanpa kehadiran Nara terasa pincang, seolah hidupnya kehilangan pusat gravitasi. Ia pernah mencoba berdamai, pernah mencoba menjauh, tapi ternyata yang paling menyakitkan justru adalah membiarkan semuanya tetap begini—tak tersentuh, tak terselesaikan.

Maka ia mulai menyusun rencana. Tidak frontal. Tidak dengan kata-kata besar. Ia tahu Nara bukan tipe yang bisa dibujuk dengan janji, apalagi dengan nostalgia.

Ia mulai dari jalur yang ia kenal paling baik: pekerjaan.

Awan masih memiliki jaringan luas di grup perusahaan tempat mereka dulu bekerja. Ia mulai melobi satu per satu kolega yang masih dekat, mencari celah dan peluang agar Nara bisa kembali ke kantor pusat—setidaknya ke divisi yang masih punya keterkaitan dengan miliknya.

“Aku butuh orang yang paham lapangan. Yang bisa cepat adaptasi dan ngerti ritme kerja kita,” ucapnya dalam rapat informal bersama pimpinan regional. “Dan aku tahu orang itu siapa.”

Namanya tidak langsung disebut. Tapi semua yang mendengar bisa menangkap maksudnya.

Sementara itu, Nara hidup tenang di cabang Makassar. Ia tidak tahu bahwa CV-nya tiba-tiba muncul di atas meja HR kantor pusat dengan rekomendasi langsung dari divisi strategis. Ia bahkan kaget saat menerima panggilan dari manajemen.

“Apakah Anda bersedia kembali ke pusat untuk proyek jangka panjang?”

Ia terdiam. Sempat bertanya-tanya, ini kebetulan... atau sengaja?

Setelah beberapa hari berpikir, ia menuliskan jawaban yang singkat:

“Saya bersedia, selama proyeknya sesuai dengan kapabilitas saya. Dan selama profesionalisme tetap dijaga.”

Jawaban itu sampai ke tangan Awan. Ia membacanya dengan campur aduk—antara lega dan deg-degan. Ia tahu, ini bukan kemenangan. Ini adalah kesempatan kedua yang harus ia jaga dengan hati-hati.

Kali ini, Awan berjanji dalam hati: “Aku nggak akan menyia-nyiakan hadirmu. Tapi aku juga harus belajar mencintaimu tanpa menghancurkan hidupmu lagi.”

 

Bab 19: Dalam Ruang yang Sama

Ruang rapat itu dingin, putih, formal. Meja kaca panjang membentang di tengah ruangan, dihiasi beberapa laptop, catatan proyek, dan kopi yang sebagian besar sudah dingin. Tak ada musik, hanya bunyi lembaran kertas dan suara klik mouse sesekali.

Lalu pintu terbuka.

Nara melangkah masuk dengan map di tangan dan ekspresi tenang yang sudah ia latih semalaman. Pandangannya langsung bertemu dengan satu sosok di ujung meja—Awan. Duduk tegak, mengenakan kemeja biru muda yang baru disetrika, dan ekspresi yang nyaris tak terbaca.

Untuk beberapa detik, ruangan seperti membeku. Ada jeda hening yang mungkin tak disadari orang lain, tapi bagi mereka berdua, itu terasa seperti waktu berhenti.

“Silakan duduk, Mbak Nara,” ujar supervisor divisi pemasaran, memecah suasana.

Nara mengangguk kecil. Ia duduk dua kursi dari Awan, cukup dekat untuk mencium aroma parfumnya yang masih sama, cukup jauh untuk tak sengaja bersentuhan.

Rapat dimulai. Laporan demi laporan dibahas. Slide demi slide berganti. Tapi keduanya nyaris tak saling menatap. Hanya sesekali, saat komentar dilempar ke udara dan mereka merespons di waktu yang sama, tatapan mereka bersilang. Cepat. Tapi dalam.

Satu kali, saat Awan menjelaskan strategi integrasi dua divisi, ia menyebut, “Kita butuh seseorang yang ngerti dua dunia—lapangan dan pusat. Dan saya rasa, Mbak Nara bisa isi ruang itu.”

Suara Awan stabil. Formal. Tapi matanya sedikit lebih lama menatap ke arahnya dibanding ke peserta rapat lain.

Usai rapat, saat semua mulai membereskan map dan laptop, Awan sengaja berjalan lebih lambat.

“Nara…” katanya pelan, nyaris berbisik.

Nara menoleh. Pandangan mereka akhirnya benar-benar bertemu, tanpa jeda, tanpa pelarian.

“Aku tahu ini bukan kebetulan,” ucap Nara singkat.

Awan tidak menyangkal. Ia hanya tersenyum kecil, lalu berkata, “Tapi aku pastikan… ini juga bukan jebakan.”

Nara tertawa tipis, seperti melepas tegang yang tak bisa ia sembunyikan.

“Kalau begitu, kita lihat saja… siapa yang lebih tahan menjaga batas,” balasnya sambil melangkah pergi lebih dulu, meninggalkan Awan dengan degup yang tak sempat ia sembunyikan.

Dan sejak hari itu, mereka kembali bekerja dalam orbit yang sama. Dikelilingi formalitas, dibatasi tanggung jawab, tapi selalu ada ruang-ruang kecil yang penuh isyarat—tatapan, senyum, diam, dan jeda-jeda yang terlalu dalam untuk disebut biasa.

 

 

Bab 20: Antara Ruang dan Rasa

Semenjak rapat itu, frekuensi pertemuan mereka meningkat. Secara profesional, tentu saja. Proyek integrasi dua divisi memaksa mereka duduk dalam ruangan yang sama, meninjau dokumen yang sama, dan sesekali—secara tak sengaja—menyentuh layar laptop yang sama.

Namun, bukan tugas yang membuat Nara sulit tidur. Bukan tanggung jawab yang membuat Awan berlama-lama menatap layar yang sudah tak berubah sejak lima belas menit lalu.

Ada yang tumbuh lagi—pelan, tapi pasti. Bukan rasa yang meledak-ledak seperti dulu, melainkan sesuatu yang lebih dewasa. Lebih sunyi. Tapi juga lebih berbahaya.

Suatu sore, setelah diskusi panjang yang melelahkan, mereka berdua tertinggal di ruang kerja. Rekan lain sudah pulang, lampu mulai dimatikan satu per satu, dan hanya ada senja oranye yang menyusup lewat jendela kaca besar.

Nara berdiri, menyimpan berkas ke dalam map. Awan masih duduk, memutar pulpen di antara jari-jarinya.

“Besok kita lanjut bahas timeline ya,” ujar Nara singkat, tapi sebelum ia benar-benar berbalik, suara Awan menahan langkahnya.

“Nara…”

Nara menoleh. Tak ada senyum di wajahnya, hanya tatapan lelah yang mencoba kuat.

“Kenapa kita bisa sampai di titik ini lagi?” Awan bertanya pelan. Nyaris seperti gumaman.

Nara menatapnya lama, lalu menggeleng. “Mungkin karena kita nggak pernah benar-benar selesai.”

Hening.

Awan berdiri. Langkahnya pelan, dan ia berhenti di jarak yang cukup dekat untuk membuat jantung Nara berdebar lebih kencang. Ia tidak menyentuhnya. Tidak mencoba. Tapi tatapan itu… cukup untuk mengguncang tembok yang susah payah Nara bangun.

“Kamu bahagia sekarang?” tanya Awan, pelan dan berat.

Nara menghela napas panjang. “Kebahagiaan itu relatif, Wan. Kadang, aku pikir aku sudah cukup. Tapi kadang, aku juga rindu… rindu jadi diriku yang dulu—saat segalanya masih jujur.”

Awan menunduk, lalu tersenyum tipis. “Aku masih nunggu, Nar. Bahkan ketika aku nggak tahu apa yang sebenarnya aku tunggu.”

Senja di luar perlahan memudar jadi ungu. Dan dalam keheningan ruang kantor yang semakin sepi, dua hati kembali diuji. Tidak dengan pelukan, tidak dengan ciuman, tapi dengan godaan yang paling mematikan—hasrat untuk kembali, tapi tak tahu ke mana.

 

Bab 21: Yang Tak Bisa Dijelaskan

Setiap pagi, Nara menatap wajahnya sendiri di cermin lebih lama dari biasanya. Mencari sesuatu—mungkin ketegasan, mungkin keberanian. Tapi yang ia temukan hanya bayangan perempuan yang makin tak yakin pada batas yang pernah ia tetapkan sendiri.

Di kantor, Awan tetap seperti biasa. Profesional. Tenang. Tapi di sela-sela kesibukan itu, ada hal-hal kecil yang membuat segalanya tak lagi biasa: cara mereka saling menghindari pandang, jeda napas yang lebih panjang saat berdekatan, atau pesan singkat yang terlalu netral tapi terasa terlalu pribadi.

Hari-hari berlalu seperti berjalan di atas tali tipis. Mereka tak pernah membicarakan apa pun secara langsung, namun diam-diam, rasa itu tumbuh seperti akar di bawah tanah—diam, dalam, dan sulit dicabut.

Suatu malam, Nara duduk sendirian di balkon apartemennya. Angin membawa suara kota yang lelah, dan di pangkuannya, segelas teh yang sudah dingin.

Ia mengingat semua yang sudah dilalui. Anak-anaknya. Suaminya yang baik, yang tak pernah mencurigai apa-apa. Hidup yang sudah dibangun susah payah. Tapi mengapa pikirannya tetap kembali ke satu sosok?

Sementara itu, Awan menatap layar ponselnya. Ada foto anak-anaknya di wallpaper. Tertawa, berlarian, polos tanpa tahu bahwa ayah mereka menyimpan sesuatu yang tak semestinya. Ia menyesap kopinya dan bertanya dalam hati: sampai kapan ia bisa berpura-pura?

Keesokan harinya, mereka duduk bersebelahan di ruang rapat. Tak satu pun yang berani menoleh, apalagi bicara soal rasa. Tapi di sela-sela presentasi dan suara keyboard, Nara mencoret sesuatu kecil di notes-nya:

"Kalau semua ini salah, kenapa rasanya seperti pulang?"

Dan saat Awan melirik, ia tak bisa menahan senyum kecil—pahit, rumit, tapi nyata.

 

Bab 22: Dalam Bisik yang Tak Terdengar

Kalau semua ini salah, kenapa terasa benar?

Nara menatap kalimat kecil itu di notes-nya, sejenak lupa dunia di sekitarnya. Rapat sudah selesai, peserta satu per satu meninggalkan ruangan. Tapi Awan masih di sana. Diam. Duduk tak jauh darinya. Tak ada yang bicara, tapi ada sesuatu di udara yang nyaris terdengar seperti detak jantung mereka sendiri.

“Nara,” Awan akhirnya bersuara, pelan, tapi dalam. Seolah memanggil bukan hanya nama, tapi juga semua kenangan yang pernah mereka kubur dalam-dalam.

Ia tak menjawab. Hanya memandangnya, penuh pertahanan yang rapuh.

“Aku nggak tahu caranya berhenti,” lanjut Awan. “Berhenti merasa, berhenti berharap, berhenti mengulang kamu di kepalaku tiap malam.”

Nara menarik napas panjang. Matanya mulai berkabut. “Kita punya keluarga, Wan. Anak-anak. Rumah. Dunia yang kita jaga dengan susah payah.”

“Aku tahu.” Awan menunduk, suara serak. “Tapi aku juga tahu... aku nggak pernah setenang ini di dekat siapa pun selain kamu.”

Hening sesaat. Dunia seolah menahan napas. Lalu Nara berdiri, mendekat perlahan. Tak ada pelukan. Tak ada sentuhan. Hanya jarak yang sangat dekat, dan suara yang nyaris seperti bisikan.

“Aku juga nggak pernah benar-benar bisa jauh dari kamu.”

Malam itu, mereka bertemu di luar kantor. Tempat netral, tanpa simbol rumah, tanpa panggilan anak-anak, tanpa peran sebagai istri dan suami dari orang lain.

Mereka duduk lama. Bicara lama. Tentang semua yang telah mereka lewati, semua luka yang mereka diamkan, dan semua rasa yang masih tersisa, bahkan setelah waktu dan jarak mencoba mengikisnya.

“Aku tahu ini salah,” kata Nara, menatap cahaya kota dari balik jendela kafe. “Tapi aku juga tahu... kita berhak untuk merasa.”

Dan dari situ, mereka kembali membiarkan diri hanyut. Bukan dalam keputusan, bukan dalam kepastian, tapi dalam perasaan yang terlalu lama disangkal. Mereka memilih, meski tahu jalan itu bukan yang mudah. Mereka ingin bersama—walau terlarang.

 

 

Bab 23: Ketika Langit Mendadak Gelap

Hari itu hujan turun tanpa permisi. Tidak deras, tapi cukup untuk membuat langit terlihat seperti sedang menangis. Nara berdiri di ambang pintu rumahnya, diam, dengan tangan gemetar memegang ponsel yang sejak pagi berdering berkali-kali.

Ada kabar yang tak pernah ia bayangkan datang. Suaminya—laki-laki yang selama ini menjadi ayah dari kedua anaknya, penopang rumah mereka—mengalami kecelakaan lalu lintas dalam perjalanan dinas. Dan nyawanya tak bisa diselamatkan.

Dunia Nara runtuh dalam sekejap. Rasanya seperti ada bagian dari dirinya yang ikut hancur bersama dentuman mobil itu. Tangis tak langsung tumpah, tapi dadanya penuh. Penuh sesak, penuh kekosongan yang mendadak datang begitu saja.

Selama berhari-hari, rumahnya dipenuhi ucapan duka. Doa mengalir dari keluarga dan teman-teman. Anak-anaknya bingung, menangis tanpa benar-benar mengerti. Dan Nara, di antara semua pelukan itu, berdiri seperti bayangan dirinya sendiri.

Awan tahu. Ia tak hadir di rumah duka, tak berani. Tapi dari kejauhan, ia mengikuti setiap perkembangan, mengirim bunga tanpa nama, dan hanya mampu berdoa diam-diam.

Ia ingin datang. Ingin memeluk. Tapi ia juga tahu—belum waktunya.

Beberapa minggu berlalu. Nara mulai kembali ke kantor. Wajahnya tenang, langkahnya masih tegas, tapi matanya bercerita lain. Kehilangan itu belum pudar, dan mungkin tidak akan pernah benar-benar pergi.

Suatu sore, saat hampir semua karyawan telah pulang, Nara duduk sendirian di ruang pantry. Awan, yang tak sengaja lewat, melihatnya dari balik kaca.

Ia ragu, tapi kemudian masuk.

“Nara…”

Wanita itu menoleh. Lelah. Tapi tak menghindar. Malah menatap Awan seolah semua pertahanannya runtuh begitu saja.

“Aku capek, Wan…” suaranya bergetar. “Capek jadi kuat terus.”

Awan duduk di seberangnya, tak bicara. Hanya memegang tangan Nara di atas meja.

Kali ini, ia tidak datang sebagai seseorang dari masa lalu, atau sebagai pria yang diam-diam mencintainya. Ia datang sebagai seseorang yang akan diam di sisinya—bahkan jika dunia berkata itu salah.

Dan di situlah mereka, dua hati yang sama-sama luka, kembali dipertemukan oleh kehilangan. Tapi entah untuk diperbaiki… atau diuji lebih dalam lagi.

 

 

Bab 24: Rumah yang Tak Lagi Sama

Sudah tiga bulan sejak hari itu. Hari di mana langit seolah menutup lembaran hidup lama Nara. Kehidupan berjalan, seperti biasa, walau rasanya tak ada yang benar-benar biasa lagi.

Awan perlahan mulai mendekat lagi. Bukan sebagai seseorang dari masa lalu, tapi sebagai teman yang hadir di waktu paling sunyi. Mereka tak langsung bicara banyak, tapi keberadaan Awan memberi semacam kelegaan. Ada bahu yang bisa diandalkan, bahkan dalam diam.

Di rumah, anak-anak Nara masih belajar mengerti. Raka, yang sulung, sering bertanya mengapa Ayah tidak pulang-pulang. Sedangkan Rani, yang lebih kecil, mulai terbiasa mencari ibunya di malam hari hanya untuk memastikan ia masih di sana.

Perubahan terasa paling kuat di ruang makan. Dulu, suara tawa dan cerita mengisi meja. Kini, lebih banyak keheningan. Tapi Nara mencoba. Ia mulai membuat jadwal bermain, mulai mengajak anak-anak berbicara tentang perasaan, tentang kehilangan, tentang kenangan.

Suatu sore, Awan mengantar Nara pulang setelah lembur. Raka melihat mereka dari jendela. Wajahnya bingung, matanya menatap lama sosok pria itu yang turun dari mobil ibunya.

“Bu… itu siapa?” tanyanya kemudian.

Nara terdiam sejenak. “Teman Ibu di kantor.”

“Dia bukan kayak teman biasa,” ucap Raka pelan, lebih pada dirinya sendiri.

Malam itu, Nara duduk di ranjang anak-anak. Ia menjelaskan perlahan, tanpa menutupi kenyataan. Bahwa sekarang, hidup mereka sedang berubah. Bahwa Ayah tidak akan kembali, tapi cinta itu masih ada—dalam kenangan, dalam cerita, dalam mereka bertiga yang tersisa.

Dan bahwa tak semua kehilangan bisa digantikan, tapi kadang… hati tetap butuh tempat untuk pulang.

Anak-anak masih belum sepenuhnya paham. Tapi mereka tahu satu hal—mereka masih punya Ibu. Dan mungkin, suatu hari nanti, mereka akan mengerti bahwa hidup tak selalu hitam-putih. Kadang, ia datang dalam nuansa abu-abu yang pelan-pelan bisa diterima.

 

 

Bab 25: Sepasang Sepi yang Tak Lagi Sama

Pagi itu dimulai seperti biasa—dengan kopi yang masih mengepul dan notifikasi email yang terus berdenting. Awan baru saja hendak berangkat ke kantor ketika panggilan telepon dari rumah mertuanya membuat jantungnya tercekat.

Suara panik di ujung sana. Istrinya. Serangan jantung. Dilarikan ke rumah sakit. Terlambat.

Dunia Awan seolah diam beberapa saat. Semua kata dalam kepalanya berhenti. Ia tak sempat berpamitan. Tak sempat meminta maaf. Tak sempat mengatakan apa pun yang penting.

Pemakaman berlangsung dalam kesedihan yang dalam namun tenang. Anak-anaknya menangis, dan Awan mencoba sekuat tenaga menjadi batu karang untuk mereka. Tapi bahkan batu pun bisa pecah diam-diam di bawah permukaan.

Sepulang dari pemakaman, Awan duduk sendiri di ruang tamu. Rumah itu kini terasa lebih luas, lebih kosong. Ia menatap foto pernikahannya yang tergantung di dinding. Terasa seperti melihat orang lain—versi dirinya yang sudah lama tak ia kenali.

Malam harinya, ia membuka pesan terakhir dari istrinya. Sebuah catatan suara singkat.

"Jangan kerja terlalu larut malam terus, ya. Anak-anak nanyain kamu terus. Jaga kesehatan, Wan… kamu selalu keras kepala kalau soal itu."

Dan tangis Awan akhirnya pecah, tanpa bisa dibendung.

Berita itu cepat sampai ke telinga Nara. Ia tak langsung menghubungi. Tapi hatinya bergetar. Bukan karena berharap, bukan karena lega. Tapi karena luka mereka kini seimbang.

Sepasang jiwa yang kehilangan, sama-sama mencari arah baru.

Hari-hari berikutnya, mereka kembali menjalani hidup seperti dua orbit yang saling mendekat. Tapi kini tanpa belenggu masa lalu yang sama. Tanpa pasangan. Tanpa ikatan yang menghalangi.

Namun di balik itu semua, ada satu pertanyaan besar yang masih menggantung di langit takdir mereka:

Setelah semua kehilangan ini, apakah mereka berani mulai dari awal?

 

Bab 26: Saat Dua Luka Saling Menemukan

Namun di balik bebasnya jalan yang kini terbentang, ada sunyi yang tak bisa ditawar. Karena kehilangan bukan hanya mengosongkan sisi ranjang—ia juga menciptakan ruang dalam hati yang tak mudah diisi kembali.

Awan dan Nara mulai kembali bertegur sapa, awalnya dalam nada formal, penuh pertimbangan. Tapi seiring waktu, percakapan mereka melembut. Dari sekadar koordinasi pekerjaan, menjadi tanya kabar anak-anak. Dari “apakah sudah makan siang” menjadi “bagaimana tidurmu tadi malam.”

Tak ada niat yang diumbar. Tak ada janji yang dideklarasikan. Namun kedekatan itu tumbuh kembali seperti rumput di sela-sela batu. Diam-diam, tapi hidup.

Suatu sore, mereka duduk berdua di kantin kantor, jendela besar menghadap langit senja yang perlahan menghangus. Hanya mereka berdua. Canggungnya sudah menipis. Yang tersisa hanya kejujuran yang lama tertahan.

“Aku kadang merasa bersalah karena bahagiaku datang dari kehilangan,” kata Nara pelan.

Awan menatapnya lama. “Aku juga. Tapi kadang... kehilangan justru mengingatkan kita bahwa hidup ini sebentar. Terlalu sebentar untuk terus menyangkal perasaan.”

Hening. Tapi bukan hening yang kaku. Lebih seperti jeda yang memberi napas.

“Apa kamu pernah berpikir untuk mulai dari awal lagi?” tanya Awan.

“Sering,” jawab Nara. “Tapi selalu aku tahan, karena aku takut... jika yang kita bangun hanya karena kita sama-sama hancur.”

Awan mengangguk. “Kalau kita bangun karena saling ingin pulih, apa itu salah?”

Kata-kata itu menggantung di udara, seperti lampu jalan yang menyala perlahan saat senja berubah menjadi malam. Tidak ada pelukan, tidak ada genggaman tangan malam itu. Hanya dua hati yang mulai berani melihat luka mereka, dan bertanya—bisakah dua jiwa yang remuk belajar mencinta lagi, dengan cara yang lebih tenang, lebih tulus, lebih baru?

Dan di titik itu, mereka tahu, mungkin perjalanan belum usai. Tapi kali ini, mereka tidak lagi berjalan saling menjauh.

Mereka berjalan berdampingan, meski pelan.

 

Bab 27: Dua Hati yang Belajar Pulang

Malam itu mereka pulang ke rumah masing-masing—rumah yang kini sepi, tapi tetap menyala lampunya. Di dalam hati mereka, masih ada ragu, masih ada bayangan masa lalu yang belum sepenuhnya reda. Tapi juga ada sesuatu yang baru tumbuh—keyakinan kecil, seperti tunas pertama setelah musim dingin panjang.

Hari-hari berlalu, dan mereka semakin sering berbincang. Tidak lagi selalu di kantor. Kadang Awan mampir ke rumah Nara untuk mengantar buku yang katanya “kamu pasti suka ini,” atau sekadar membawakan makanan yang “kebanyakan aku masak, kamu bantu habisin, ya.”

Anak-anak mereka mulai mengenal satu sama lain. Awalnya canggung, lalu menjadi biasa. Sesekali bermain bersama saat akhir pekan. Tak pernah dipaksa akrab, tapi perlahan saling membuka.

Suatu hari, anak bungsu Awan bertanya, polos dan tanpa beban, “Ayah, Tante Nara itu teman ayah waktu kecil ya? Soalnya Ayah kelihatan senang banget kalau bareng dia.”

Awan terdiam sejenak, lalu tersenyum. “Iya, teman lama Ayah. Tapi kita lama banget nggak ketemu. Kadang hidup itu suka aneh ya, Nak. Orang yang kita kira hilang, bisa datang lagi.”

Nara juga pernah ditanya hal serupa oleh putrinya. Dan jawaban yang keluar dari mulutnya bukanlah rangkaian pembenaran, melainkan kesadaran baru. “Kadang ibu nggak tahu kenapa, tapi kalau sama Om Awan, ibu bisa ketawa lagi. Ibu merasa ringan.”

Semua itu berjalan perlahan. Bukan cinta yang meledak-ledak seperti dulu, tapi kasih yang tumbuh dari puing-puing. Yang tahu luka, tapi juga tahu cara merawat. Yang tidak menginginkan drama, hanya kehangatan yang bisa membuat pulang terasa seperti pulang.

Dan pada suatu sore yang hangat, setelah selesai membersihkan sisa acara kecil ulang tahun anak sulung Nara, Awan duduk di teras rumah sambil memandangi langit senja. Nara datang membawakan teh, lalu duduk di sebelahnya. Tak banyak bicara, hanya membiarkan waktu berjalan.

“Aku masih nggak tahu masa depan bakal kayak apa,” kata Nara.

“Aku juga,” jawab Awan. “Tapi aku tahu satu hal... aku nggak mau kehilangan kamu lagi.”

Nara menoleh, matanya basah, tapi senyumnya lembut.

“Mungkin... kali ini kita bisa pulang, bukan karena patah, tapi karena memang saling memilih.”

Langit sore itu perlahan berubah jingga, seolah semesta ikut mengamini bahwa beberapa cinta memang harus berputar dulu—sebelum benar-benar kembali ke rumahnya.

 

Bab 28: Pada Suatu Sore yang Tak Biasa

Pada suatu sore yang langitnya kelabu tapi menenangkan, Nara duduk di beranda rumahnya, memandangi gerimis yang turun pelan. Aroma tanah basah, suara dedaunan diguyur air, dan secangkir teh hangat di tangannya—semuanya mengisi ruang kosong dalam dadanya dengan damai yang sulit dijelaskan.

Lalu ada suara motor berhenti di depan pagar. Awan.

Ia membuka helmnya perlahan dan tersenyum. Tidak terburu-buru, tidak dengan semangat muda yang meledak-ledak, tapi dengan tenang—seperti seseorang yang tahu ke mana ia akan pulang.

Nara berdiri dan membukakan pagar, tak banyak kata. Hanya saling pandang. Hanya diam yang mengerti.

“Kamu dingin?” tanya Awan sambil menunjuk teh di tangan Nara.

“Enggak juga. Cuma suka suasananya.”

Awan duduk di sebelahnya. Jarak mereka masih cukup untuk tidak menyentuh, tapi juga cukup dekat untuk membuat detak jantung Nara kembali ingat rasanya gugup.

“Aku sempat mikir,” kata Awan, menatap gerimis. “Kita ini kayak dua sungai yang sempat menyatu, terus terpisah jauh banget. Tapi pada akhirnya, balik ketemu juga di muara.”

Nara tersenyum pelan, tapi matanya berkaca. “Tapi muaranya udah bukan dunia yang sama kayak dulu.”

“Memang bukan,” jawab Awan cepat. “Tapi mungkin... kita bisa bangun dunia baru. Buat kita, buat anak-anak. Bukan untuk menambal masa lalu, tapi untuk memberi arti sekarang.”

Ada jeda.

Lalu Nara bersandar pelan di bahu Awan. Air matanya jatuh tanpa suara.

“Aku nggak mau buru-buru,” bisiknya.

“Aku juga,” balas Awan. “Aku cuma nggak mau menyesal lagi. Itu saja.”

Dan di tengah hujan yang turun perlahan, di sore yang biasa, dua hati yang lama terombang-ambing itu akhirnya berani memikirkan satu hal yang dulu terlalu mustahil: memulai lagi, bukan dari awal, tapi dari tempat terakhir mereka saling temukan.

Sebuah tempat yang mereka sebut pulang.

Bab 29: Langkah-Langkah Baru

Beberapa minggu setelah sore itu, hari-hari mereka mulai menemukan pola baru—bukan kembali seperti dulu, tapi sebuah bentuk yang lahir dari luka, pengertian, dan kedewasaan. Mereka tak lagi hidup dalam bayang-bayang cinta masa lalu yang membuncah tanpa arah, tapi dalam cinta yang tahu batas, tahu waktu, dan tahu untuk tidak selalu harus dimenangkan.

Anak-anak mereka perlahan mulai mengenal satu sama lain. Tidak mudah, tentu saja. Ada kecanggungan. Ada tanya. Tapi anak-anak, seperti alam, memiliki cara sendiri untuk tumbuh dalam situasi yang berubah.

Raka, anak pertama Awan, tampak paling banyak diam. Sementara Ayra, putri kedua Nara, cenderung ekspresif. Tapi satu momen kecil—berbagi cerita tentang sekolah di meja makan, tawa kecil saat bermain kartu bersama, atau saling bantu menyiapkan sarapan—pelan-pelan menjembatani semua yang tadinya terpisah.

Nara dan Awan tidak langsung membicarakan masa depan dalam bentuk-bentuk besar seperti pernikahan kembali atau rumah bersama. Mereka memilih untuk hadir dulu. Menjadi ada. Dan itu, bagi keduanya, sudah cukup menyembuhkan banyak hal.

Namun dunia di luar rumah tak selalu seiring. Tetangga mulai bertanya. Teman-teman lama menyampaikan bisik-bisik. Bahkan beberapa keluarga jauh menganggap mereka terlalu cepat menghapus duka dan terlalu mudah menyambung kembali kisah lama.

Nara sempat goyah. Di malam-malam ketika anak-anak sudah tidur, ia menatap langit dari jendela kamarnya, bertanya-tanya apakah yang mereka lakukan adalah benar. Tapi setiap kali itu terjadi, Awan selalu hadir—entah dengan ucapan, entah hanya lewat genggaman tangan—dan seolah berkata: kita tahu ini tidak mudah, tapi tidak semua yang sulit harus ditinggalkan.

Pada akhirnya, keduanya memilih untuk terus berjalan. Perlahan. Tapi pasti. Mereka tahu luka masih ada. Tapi mereka juga tahu: cinta yang bertahan dari waktu dan jarak, tidak datang dua kali dalam hidup.

Dan mungkin, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, mereka tak lagi hanya menyukai sore yang tenang.

Mereka mulai percaya bahwa setiap pagi juga pantas dirayakan.

“Kita nggak harus jadi sempurna, cukup jadi saling.”
— Awan, suatu pagi, sambil menuangkan kopi ke cangkir Nara.

 

Bab 30: Mengakui Luka, Merawat Harapan

Pada akhirnya, keduanya memilih untuk terus berjalan. Perlahan. Tapi pasti. Mereka tahu luka masih ada—mereka tak berniat menghapusnya, hanya belajar hidup bersamanya. Seperti seseorang yang berjalan dengan bekas luka di kaki: kadang terasa nyeri saat hujan turun, tapi tak lagi membuat langkah mereka terhenti.

Nara mulai kembali bekerja, kali ini dengan peran baru yang lebih fleksibel, agar ia bisa tetap banyak hadir di rumah. Awan pun banyak merelakan waktu-waktu lemburnya, memilih pulang lebih awal agar bisa duduk menemani anak-anak mengerjakan PR atau sekadar menonton acara TV sederhana bersama-sama.

Ada malam-malam saat keduanya duduk berdua, tak bicara banyak. Cukup menatap gelas teh yang mengepul atau mendengarkan detik jam berdetak di dinding. Namun di dalam diam itu, mereka saling tahu: mereka sudah tak lagi berusaha membuktikan apa-apa. Mereka hanya ingin mencintai tanpa terburu-buru.

Satu malam, setelah meninabobokan anak-anak, Awan duduk di teras, menatap langit. Nara menyusul, membawa dua cangkir cokelat hangat.

“Aku nggak tahu hidup akan seperti ini,” kata Nara pelan.

Awan menoleh, matanya hangat. “Aku juga. Tapi aku tahu... kalau harus menulis ulang semuanya dari awal, aku tetap akan memilih ada di bagian yang sama denganmu.”

Nara terdiam sejenak, lalu menyenderkan kepalanya di bahu Awan. Di kejauhan, terdengar suara jangkrik bersahut-sahutan. Dunia terasa sunyi, tapi di antara mereka—ada suara yang paling nyata: penerimaan.

Tidak sempurna. Tidak bebas dari kesalahan. Tapi nyata.

Dan untuk pertama kalinya sejak perjalanan panjang itu dimulai, keduanya tak merasa bersalah untuk merasa bahagia.

 

Bab 31: Bahagia yang Akhirnya Datang Juga

Pagi itu matahari menyapa lembut dari balik jendela kamar mereka. Bukan lagi hotel, bukan rumah sewa, bukan ruang-ruang sementara yang dulu hanya menjadi saksi rasa yang tertahan. Ini rumah mereka—akhirnya.

Ada foto keluarga di dinding ruang tamu. Foto Nara, Awan, dan keempat anak mereka. Tidak ada perbedaan siapa dari rahim siapa. Tidak ada pembatas nama keluarga. Hanya satu: keluarga.

Awan mengecup kening Nara seperti biasa sebelum menyiapkan sarapan. Nara menyapu halaman sambil tersenyum melihat tanaman-tanaman kecil yang mulai tumbuh. Hidup mereka tak lagi penuh gejolak seperti dulu, tapi justru di ketenangan inilah mereka menemukan arti sebenarnya dari “akhir yang bahagia.”

Anak-anak mulai memanggil satu sama lain sebagai “kakak” dan “adik” tanpa perlu disuruh. Mereka mulai terbiasa saling menunggu sebelum makan malam. Saling bercerita tentang hari-hari mereka. Bahkan mulai memperebutkan remote TV—seperti keluarga mana pun yang sedang belajar hidup bersama.

Di meja makan, tak jarang Nara dan Awan saling mencuri pandang dan tertawa kecil melihat kekacauan yang manis itu.

“Gimana kalau liburan ke pantai?” usul Awan suatu hari, saat sore menjemput.

“Pantai?” Nara menoleh, tersenyum, seolah mengingat sesuatu yang sangat jauh tapi juga dekat.

“Iya. Mungkin... kita bisa tunjukkan pada anak-anak, jejak kita yang pertama.”

Nara menatapnya, kali ini lebih lama.

“Jejak yang dulu hilang karena ombak... sekarang bisa kita tanamkan lagi, tapi bersama mereka.”

Awan mengangguk. Tak perlu berkata apa-apa. Karena akhirnya, bahagia mereka bukan datang dari pelarian atau kenangan. Tapi dari keberanian untuk jujur, untuk saling memilih lagi—meski dunia pernah memisahkan mereka berkali-kali.

Hari-hari mereka kini bukan tanpa masalah. Tapi semua terasa bisa dihadapi karena mereka tidak lagi sendiri. Mereka adalah dua hati yang pernah hancur, dua jiwa yang pernah tersesat, dan kini satu rumah—dalam arti paling utuhnya.

Dan untuk pertama kalinya...
Bahagia mereka bukan akhir. Tapi awal yang baru.

Waktu berlalu, dan kehidupan terus berjalan seperti aliran sungai yang tak pernah berhenti meskipun kadang terhalang batu besar. Nara dan Awan, yang dulu pernah terpisah oleh jarak dan takdir, kini kembali berdiri bersama, tidak hanya sebagai pasangan, tetapi sebagai teman hidup sejati.

Mereka belajar bahwa cinta tidak selalu datang dengan cara yang sempurna. Terkadang, ia hadir dalam bentuk luka yang harus sembuh, dalam kebisuan yang harus diterjemahkan, dan dalam waktu yang tak selalu memberi jawaban instan. Namun, yang terpenting, mereka belajar bahwa tak ada perjalanan yang sia-sia—setiap langkah yang mereka ambil, setiap air mata yang mereka jatuhkan, membawa mereka ke titik ini.

Mereka tidak lagi takut pada kehilangan, karena mereka tahu bahwa setiap hari bersama adalah hadiah yang tak ternilai. Anak-anak mereka tumbuh dengan rasa saling menghormati dan cinta yang kuat. Mereka mengajarkan tentang kekuatan memaafkan, tentang keberanian untuk mencintai meskipun ada banyak hal yang tak terduga, dan tentang pentingnya memiliki keluarga sebagai tempat yang aman.

Dan meskipun kehidupan tak selalu berjalan mulus, Nara dan Awan tahu bahwa mereka kini tak akan pernah sendirian lagi. Mereka memiliki satu sama lain, dan itu lebih dari cukup.

Di penghujung hari, saat matahari tenggelam, Nara dan Awan duduk berdua di teras rumah mereka, memandangi anak-anak yang bermain di halaman.

"Aku masih ingat betul hari pertama kita bertemu," kata Awan, memandang Nara dengan tatapan yang dalam.

"Begitu juga aku," jawab Nara, tersenyum. "Dan aku tahu, takdir kita bukan kebetulan."

Awan meraih tangan Nara, menggenggamnya erat. "Tidak ada lagi yang akan memisahkan kita, Nara. Tidak sekarang. Tidak lagi."

Nara mengangguk, merasakan kedamaian yang selama ini ia cari. Mereka mungkin tak tahu apa yang akan terjadi esok, tapi yang pasti, mereka telah memilih untuk menjalani hari ini bersama. Dan itu sudah lebih dari cukup.

Tamat.